IFBC Banner

Joe Biden: Media Sosial 'Membunuh Orang' dengan Misinformasi Covid-19 dan Vaksin

Sabtu, 17 Juli 2021 – 11:24 WIB

Foto: axios.com

Foto: axios.com

Washington, REQNews.com -- Presiden AS Joe Biden mengatakan perusahaan media sosial 'membunuh orang' dengan gagal mengawasi informasi yang salah tentang Covid-19.

Biden membuat pernyataan itu saat ditanya apakah memiliki pesan untuk perusahaan media sosial seperti Facebook, yang sebagian penggunanya menyebarkan informasi palsu tentang vaksin.

"Mereka membunuh orang," Biden menjawab pertanyaan itu. "Satu-satunya pandemi yang kita miliki saat ini adalah orang-orang yang tidak divaksin."

Sebelumnya, ahli bedah AS Jenderal Vivek Murthy mengatakan informasi yang salah tentang vaksin adalah ancaman bagi kesehatan masyarakat.

Menurut Murthy, informasi yang salah tentang Covid-19 -- yang oleh WHO disebut infodemik -- sangat mematikan.

"Informasi yang salah merupakan ancaman berbahaya bagi kesehatan bangsa kita," kata Murthy dalam sambutannya di Gedung Putih, Kamis lalu. "Kita harus menghadapi informasi yang salah. Nyawa tergantung padanya."

Menurut Murthy, perusahaan teknologi dan platform media sosial harus membuat perubahan pada perangkat lunak mereka, untuk mengurangi penyebaran informasi palsu dan meningkatkan akses ke sumber otoritatif dan berbasis fakta.

"Terlalu sering platform dibangun dengan cara yang mendorong, bukan melawan, penyebaran informasi yang salah," kata Murthy. "Kami meminta perusahaan media sosial untuk melangkah. Kami tidak bisa menunggu lebih lama lagi sampai mereka mengambil tindakan agresif."

Dani Lever, juru bicara Facebook, mengatakan; "Kami tidak akan terganggu oleh tuduhan yang tidak didukung fakta. Sebab, lebih dua miliar orang telah melihat informasi resmi tentang Covid-19 dan vaksin di Facebook, lebih banyak dibanding di platform mana pun."

Lever melanjutkan; "Lebih 3,3 juta orang AS menggunakan alat pencari vaksin kami untuk mencari tahu di mana dan bagaimana mendapatkan vaksin. Fakta menunjukan Facebook membantu menyelamatkan nyawa. Titik."

Twitter memposting di platformnya: "Seiring pandemi Covid-19, kami akan terus melakukan bagian kami untuk meningkatkan informasi kesehatan yang otoritatif."

Varian Delta kini menjadi jenis dominan di seluruh dunia, disertai lonjakan kematian di seluruh AS. Lebih 90 persen kematian terjadi pada orang-orang yang tidak atau belum divaksin.

Kasua inveksi Covid-19 di AS naik 70 persen dalam dua pekan terakhir, dengan jumlah kematian naik 26 persen. Wabah kini terjadi di beberapa negara bagian dengan tingkat vaksinasi rendah.

Sebelumnya, Jumat 16 Juli, Sekretaris Pers Gedung Putih Jen Psaki juga mengkritik Facebook. Ia juga mengatakan pemerintah Biden secara teratur melakukan kontak dengan Facebook, dan menandai posting bermasalah.

Psaki mengatakan 12 orang bertanggung jawab atas hampir 65 persen misinformasi antivaksin di platform media sosial. Temuan ini telah dilaporkan Mei lalu oleh Center for Countering Digital Hate yang berbasis di Washington dan London, tapi Facebook membantah metodologi itu.