Biarkan Orangutan Tapanuli Hidup di Alam, Mari Selamatkan Habitatnya!
Biarkan Orangutan Tapanuli Hidup di Alam, Mari Selamatkan Habitatnya!

Hukum dan Aparatnya Memble! Penyebab Maraknya Penyiksaan Binatang

Jumat, 14 Juni 2019 – 20:00 WIB

Beruang madu tak terurus di Bonbin Bandung dua tahun lalu mengemis minta makanan ke pengunjung. Foto: Reuters

Beruang madu tak terurus di Bonbin Bandung dua tahun lalu mengemis minta makanan ke pengunjung. Foto: Reuters

Berulang kali kebun binatang di negara ini menghadirkan cerita-cerita tragis.

JAKARTA, REQnews- Berulang kali kebun binatang di Indonesia menghadirkan cerita-cerita tragis. Bahkan terkesan hukum dan aparnya memble hingga kejadian penyiksaan terus terjadi berulang kali.

Belum lama ini publik menyoroti sebuah kebun binatang mini di Markas Kostrad Cilodong, Depok. Bonbin itu mendadak viral setelah seorang pengunjung mengunggah foto dan video yang menunjukkan betapa kotornya habitat para hewan. Mereka tak terurus.

Dalam unggahan akun Twitter @halocilukba, tampak seekor buaya berenang bersama sampah di sebuah kolam air berwarna hijau. Terlihat juga seekor kasuwari yang diberi makanan buah pisang yang sudah berlendir. Atau bagaimana seekor monyet duduk termangu di sebuah kandang penuh sampah dan batu bata.

Setelah viral, pihak Kostrad langsung merespon dengan membersihkan kebun binatang mini tersebut. Mereka beralasan bahwa mini zoo tersebut kotor karena kunjungan yang membludak seusai lebaran.

Sebelumnya pecinta binatang dikejutkan dengan foto tubuh singa Afrika bernama Michael yang tergantung kaki di kandang Kebun Binatang Surabaya. Polisi yang menyelidiki bilang, Michael mati karena kehabisan oksigen, mirip orang bunuh diri.

Polisi menduga Michael dibunuh, karena bagaimana pula seekor singa bisa menggantung diri di kawat baja? Tapi penyelidikan polisi buntu. Tujuh orang diperiksa sebagai saksi, tapi polisi tak menemukan titik cerah hingga akhirnya penyelidikan dihentikan.

Kasus tersebut sempat mendapat sorotan media internasional, yang menyebut Kebun Binatang Surabaya sebagai ‘neraka’ atau ‘kebun binatang paling kejam’.

julukan itu rasanya tak berlebihan buat kebun binatang yang menampung 3.500 hewan itu. Sepanjang 2012 saja, ada 130 hewan yang mati di Kebun Binatang Surabaya. Kebanyakan hewan mati karena malnutrisi, stress, dan sakit karena kondisi tak layak. Sebabnya sepele: mismanajemen dan kecerobohan pengelolaan dana.

Begitu pula kematian Melanie si harimau sumatra yang kurus keracunan, kisah tragis beruang madu bonbin Bandung yang kelaparan sampai mengemis minta makanan, dan banyak satwa merana lainnya.

Penyiksaan terhadap binatang masih menjadi kriminalitas yang cenderung ditoleransi. Sebetulnya Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) mengatur pasal pembunuhan terhadap binatang dengan ancaman penjara paling lama 2 tahun 8 bulan. Pasal ini berlaku buat semua bentuk penganiayaan, termasuk untuk orang yang mengurung anjing di dalam mobil, seperti yang pernah terjadi di sebuah parkiran mal di Jakarta Pusat pada 2017. Sayangnya, hukum tersebut tak efektif menjerat pelaku.

Jadi sebenarnya butuh lebih dari sekedar pasal yang lebih keras dalam kitab KUHP, jika ingin melindungi binatang di negara ini. Butuh kesadaran dari masyarakat di Tanah Air, anjing dan kucing (dan semua makhluk hidup tentunya) sejatinya hidup berdampingan dengan manusia. (RAN)