Geger Prostitusi Gay Kalangan SMA, Terbongkar Gara-gara AV dan AN Baku Hantam di Jalan

Kamis, 22 Juli 2021 – 14:31 WIB

Ilustrasi prostitusi gay (Foto: Istimewa)

Ilustrasi prostitusi gay (Foto: Istimewa)

PADANG, REQNews - Kepolisian berhasil membongkar prostitusi gay di Kota Padang, berawal dari perkelahian antara seorang pelajar SMA berinisial AV dengan seorang karyawan swasta berinisial AN.

AV (15 tahun) dan AN (28 tahun) berkelahi di dalam mobil di pinggir Jalan Raya Simpangharu, Kecamatan Padang Timur, Kota Padang pada Selasa malam, 19 Juli 2021.

Warga yang terganggu melihat keributan antara keduanya, lantas membawa mereka ke kantor polisi.

Di hadapan polisi, barulah terungkap bahwa keduanya berkelahi karena uang setoran prostitusi online yang tidak sesuai kesepakatan awal.

Berdasarkan penyelidikan, diketahui AN ternyata seorang muncikari prostitusi yang menyediakan anak laki-laki untuk penyuka sesama jenis.

Sementara AV adalah anak yang disediakan AN untuk melayani pelanggan kencan singkat.

"Kami awalnya menerima pengaduan dari masyarakat, kemudian lewat penyelidikan ditemukan ada aktivitas transaksi jual beli," terang Kasat Reskrim Polresta Padang, Kompol Rico Fernanda, dikutip Kamis, 22 Juli 2021.

Fakta mengejutkan lainnya juga terbongkar di hadapan polisi. AV dan AN ternyata selama ini juga menjalin hubungan asmara sesama jenis.

"Setelah itu HN diduga telah menjual AV melalui aplikasi khusus secara online kepada pria-pria di dalam aplikasi yang sama," katanya.

Kepada pria penyuka sesama jenis, AN mematok tarif sekali kencan dari Rp 250 ribu sampai Rp 1 juta.

"Pelanggan bisa memesan melalui aplikasi online sesama jenis dan menyetor lebih dulu uang muka sebesar Rp 150 ribu," lanjutnya lagi.

Hingga kini, polisi masih terus mengembangkan kasus prostitusi gay online di Kota Padang itu.

Sementara itu, atas perbuatannya, AN terancam dijerat dengan pidana perbuatan cabul dan eksploitasi seksual sesama jenis terhadap anak di bawah umur sebagaimana dalam Pasal 82 Juncto (Jo) 76 E, 76 I, pasal 88 Undang-undang RI nomor 17 tahun 2016, dan sub pasal 292 KUHPidana.

"Dengan ancaman hukuman maksimal 12 tahun penjara," tandas Rico Fernanda.