PPKM Darurat Belum Efektif Turunkan Angka Positif Covid, Ini Buktinya

Jumat, 23 Juli 2021 – 15:55 WIB

Penyekatan PPKM Darurat (Foto: Istimewa)

Penyekatan PPKM Darurat (Foto: Istimewa)

YOGYAKARTA, REQnews - Epidemiolog Universitas Gadjah Mada (UGM), Bayu Satria Wiratama menilai penerapan PPKM Darurat belum efektif memberikan dampak penurunan jumlah kasus positif Covid-19 di Indonesia.

"Belum terlihat penurunannya. Kalaupun turun diikuti jumlah tes yang turun juga," ujar Bayu Satria kepada wartawan, Jumat 23 Juli 2021.

Menurutnya, walaupun sempat terjadi penurunan itu karena jumlah sampel tes menurun. Sementara persentase jumlah kasus positif cenderung stabil. Hal itu pun sudah diakui oleh pemerintah.

"Kalau jumlah yang dites turun otomatis jumlah kasus turun juga. Bisa dilihat dari positivity rate yang cenderung stabil," kata dia. 

Ia mengatakan bahwa tingginya kasus positif Corona dalam dua bulan terakhir ini, karena imbas masyarakat yang abai dengan protokol kesehatan. Termasuk saat melaksanakan vaksinasi Covid-19.

"Bukan karena vaksinnya, karena vaksin aman dan tidak akan menyebabkan sakit Covid-19. Yang mungkin terjadi adalah pelaksanaannya yang tidak terkendali dan menyebabkan 5M tidak bisa dijaga," ujarnya.

Bayu juga melihat jumlah kasus yang meningkat kemungkinan sudah terjadi sejak lama. Hanya saja tak terpantau, karena jumlah testing yang masih sedikit.

"Kita tidak pernah bisa cukup testingnya sehingga data yang ada itu tidak mencerminkan (data) yang sebenarnya. Sehingga mungkin sekali di Juni sudah tinggi kasusnya namun banyak yang masih undetected," kata dia. 

Bahkan ia menduga sejak bulan Mei 2021 banyak kasus yang tidak terdeteksi. Hal itu terlihat setelah ada di masyarakat, karena itu bisa naik sangat tinggi di Juli.

Ia pun memberikan saran kepada pemerintah agar lebih gencar melakukan program vaksinasi sebagai upaya mencapai herd immunity.

Namun, apabila laju vaksinasi harian masih rendah, maka target bulan September untuk tercapainya herd immunity di Jawa-Bali akan sulit. "Laju vaksinasi harian kita masih sangat rendah. Kecuali kita bisa 2 juta sehari," ujar Bayu.

Karena, masih banyak kasus pasien Covid-19 yang meninggal di rumah sakit dan isoman di rumah. Menurutnya, pemerintah perlu memperbanyak lagi lokasi dan tempat isolasi terpusat.

Itu dilakukan agar bisa terpantau dengan baik dan bisa di-screening lebih awal bagi mereka yang mengarah ke gejala yang lebih berat. "Pasien dengan gejala berat bisa terpantau dengan baik," kata dia.

Diketahui, sebelumnya Presiden Joko Widodo mengumumkan memperpanjang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat hingga 25 Juli 2021 mendatang. Namun, per tanggal 26 Juli 2021 pemerintah akan memperlonggar aturan PPKM Darurat jika angka positif Covid menurun.

"Setelah dilaksanakan PPKM Darurat, terlihat dari data penambahan kasus dan kepenuhan bed rumah sakit mengalami penurunan. Kita selalu memantau memahami dinamika di lapangan dan juga mendengar suara-suara masyarakat yang terdampak dari PPKM. Karena itu jika tren kasus terus mengalami penurunan maka tanggal 26 Juli 2021 pemerintah akan melakukan pembukaan secara bertahap," ujar Jokowi dalam siaran pers di YouTube Sekretariat Presiden pada Selasa 20 Juli 2021.