Tak Ada Angin dan Hujan, Satgas Covid-19 Larang Warga Isoman! Ada Apa?

Jumat, 30 Juli 2021 – 09:45 WIB

Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito

Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito

JAKARTA, REQnews - Hingga saat ini, kasus penularan Covid-19 di Indonesia masih tinggi. Bagi mereka yang terpapar, mendapat perawatan di rumah sakit (RS) atau tempat isolasi yang disediakan pemerintah menjadi sangat sulit.

Hal ini disebabkan karena banyaknya pasien Covid-19 yang tengah menjalani perawatan. Akibatnya, RS maupun tempat isolasi resmi yang disediakan pemerintah kewalahan menerima pasien yang positif Covid-19 karena sudah melebihi daya tampung. Isolasi mandiri pun terpaksa menjadi pilihan, karena tak adanya tempat perawatan.

Namun, Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito meminta sejumlah pihak tidak memaksakan diri melakukan isolasi mandiri (isoman) saat terpapar virus corona. Hal itu lantaran banyaknya temuan kasus kematian warga terpapar Covid-19 yang menjalani isoman. Mereka kebanyakan meninggal karena terlambat mendapat akses pengobatan yang baik.

Dijelaskan Wiku, larangan itu berlaku untuk empat jenis kondisi. Antara lain yang mengalami gejala sedang-berat, berusia di atas 45 tahun, memiliki komorbid, dan tidak memiliki tempat yang memadai untuk isoman. Wiku meminta mereka yang tidak seharusnya menjalani isoman di rumah untuk melakukan perawatan di rumah sakit lapangan atau tempat isolasi terpusat yang difasilitasi pemerintah pusat maupun daerah.

"kami mohon untuk tidak melakukan isoman," katanya dalam konferensi pers yang disiarkan melalui kanal YouTube BNPB Indonesia, Kamis, 29 Juli 2021. Dijelaskannya, khusus di Jawa-Bali pemerintah sudah menyediakan sekitar 34 ribu tempat tidur isolasi. Rinciannya, DKI Jakarta 17.594 tempat tidur, Jawa Barat 4.310 tempat tidur, Jawa Tengah 6.089, Jawa Timur 7.339, DI Yogyakarta 2.031, Banten 868, dan Bali 1.001 tempat tidur untuk isolasi terpusat.

"Manfaatkanlah tempat isolasi terpusat yang telah disediakan pemerintah di wilayah anda. Perawatan di tempat isolasi terpusat diawasi langsung oleh nakes dan dipantau, baik tanda vital, gejala, pola makan, dan obat-obatannya. Sehingga jika terjadi perburukan bisa langsung ditangani," kata dia.

Sementara untuk pasien dengan tanpa gejala atau OTG dan bergejala ringan, kemudian tidak memiliki komorbid, berusia kurang dari 45 tahun, dan memiliki rumah yang ideal untuk menjalani isoman, maka Wiku berharap mereka juga tetap menjaga pola makan dan mengonsumsi obat.