Sidang Pemboman JW Marriott 2003: Encep Nurjaman Minta Pengacara Indonesia

Jumat, 03 September 2021 – 08:23 WIB

Foto: blog.smu.edu

Foto: blog.smu.edu

Teluk Guantanamo, REQNews.com -- Encep Nurjaman, tersangka pembom JW Marriott Jakarta 2003, muncul di pengadilan militer di Pangkalan Angkatan Laut AS di Teluk Guantanmo Kuba. Hambali, nama lain Encep Nurjaman, minta didampingi pengacara dari Indonesia.

Mengenakan kemeja dan celana hitam, pria berjenggot tebal itu duduk di ruang sidang dengan penjagaan ketat. Sesuai protokol kesehatan, Encep Nurjaman mengenakan topeng.

Setelah sidang dibuka, Hayes Larsen -- komandan dan hakim militer -- bertanya kepada Encep Nurjaman melalui penerjemahnya; "Apakah puas dengan perwakilan hukum yang dihadirkan?"

Encep Nurjaman menjawab; "Saya ingin diwakili seorang pengacara Indonesia."

Sidang tidak hanya menghadirkan Encep Nurjaman, tapi juga dua tersangka lain yang berasal dari Malaysia; Mohammed Nazir bin Lep dan Mohammed Farik bin Amin, dengan tuduhan terlibat pemboman di Indonesia tahun 2002 dan 2003, serta terkait Al Qaeda.

BenarNews, yang meliput persindangan dari pangkalan militer AS dekat Washington, tidak diperbolehkan mengambil foto atau video proses persidangan. Peliputan wartawan atas sidang ini juga diatur kantor Komisi Militer.

Dakwaan terhadap Encep Nurjaman dan dua lainnya seharusnya diajukan Februari lalu, tapi ditunda karena kekhawatiran pandemi virus korona.

Pada 2017, pemerintah Donald Trump mengumumkan rencana mengajukan tuduhan terkait terorisme terhadap Hambali. Januari 2021, delapan hari setelah Joe Biden dilantik, kantor Komisi Militer mengumumkan Hambali dan dua warga Malaysia akan diadili di Pengadilan Militer.

New York Times menulis pengadilan ketiganya di Teluk Guantanamo adalah yang kali pertama dalam tujuh tahun terakhir.

Hambali, Nazir bin Lep, dan Farik bin Amin, adalah tiga dari 39 narapidana Teluk Guantanamo yang tersisa. Pada puncak perang melawan teror, setelah serangan 9/11, penjara Teluk Guantanamo menahan hampir 800 tersangka teroris dari seluruh dunia.

Lima tahanan, yang dituduh merencanakan dan membantu serangan 20 tahun lalu, didakwa pada Mei 2012. Namun kasus mereka masih tahap pra-peradilan, dengan tanggal persidangan belum dijadwalkan.


Meragukan Penerjemah

Sidang pertama Senin lalu tidak berjalan mulus. Pengacara Hambali, Nasir bin Lep dan Farik bin Amin mempertanyakan netralitas dan kualitas penerjemah yang disediakan militer AS.

Pengacara James Hodes meminta agar persidangan dicatat. "Saya dapat memberikan ponsel saya dan mereka dapat mulai merekam," kata Hodes, pengacara yang mewakili Hambali Si Janggut Merah.

Hodes berargumen bahwa penerjemah Indonesia harus dikeluarkan dari kasus ini. Alasannya, penerjemah itu tidak berpihak kepada kliennya.

"Penerjemab itu telah membuat pernyataan bahwa klien saya adalah teroris dan harus dibunuh," kata Hodes kepada hakim. :"Itu hanya salah satu alasan."

Christine Funk, pengacara Farik bin Amin, mengatakan frustrasi dengan penerjemah sedang sidang pertama dimulai. Penerjemah itu, lanjut Funk, tidak mahir Bahasa Inggris tapi dipaksa mendengar dua bahasa.

Hakim meminta pengacara untuk merespon perlahan sehingga bisa mendapatkan interpretasi akurat. "Saya ingin memastikan terdakwa memahami semua yang terjadi," kata Hakim Larsen.

Sidang berlangsung sampai sore, dengan banyak diskusi berfokus pada masalah penerjemah. Sidang ditunda sampai hari berikut.


Delapan Dakwaan

Dalam lembar dakwaan yang diunggah secara online oleh Kantor Komisi Militer, Hambali menghadapi delapan dakwaan. Dua warga Malaysia menghadapi sembilan dakwaan.

Ketiganya dituduh melakukan persekongkolan, pembunuhan, percobaan pembunuhan, dengan sengaja menyebabkan luka berat, terorisme, menyerang warga sipil, menyerang obyek sipil, dan perusakan properti.

Hambali, menurut AS, bertemu Osama bin Laden tahun 1996 di Afghanistan. Ia ditangkap di Thailand, Agustus 2003, bersama Nazir bin Lep dan Farik bin Amin.

Menurut penyelidikan Senat AS, mereka dikirim ke lokasi rahasia yang dioperasikan melalui jaringan penjara internasional CIA, sebelum dipindahkan ke Teluk Guantanamo, September 2006.

Hambali, yang mendapat julukan Osama Asia Tenggara, terkait dengan pemboman JW Marriott Jakarta 2003 dan pemboman di Bali 2002.