5.642 Anak di Jabar Jadi Yatim Piatu Gegara Covid-19

Jumat, 03 September 2021 – 16:02 WIB

Gambar ilustrasi

Gambar ilustrasi

BANDUNG, REQnews - Pandemi virus corona atau Covid-19, tak hanya membuat ekonomi masyarakat kecil hancur berantakan, namun juga meninggalkan duka mendalam bagi banyak orang.

Sebab, banyak anak-anak menjadi yatim atau piatu setelah orang tua mereka meninggal terpapar Covid-19. Di Jawa Barat (Jabar), sebanyak 5.642 anak menjadi yatim piatu karena orang tuanya meninggal setelah terpapar virus corona.

Berdasarkan data Dinas Sosial (Dinsos) Jabar hingga 1 September 2021, anak yang kehilangan orang tua itu berasal dari rentang usia balita hingga SMA.

Kasus anak yang menjadi yatim, piatu atau yatim piatu tercatat paling banyak berada di Kota Bekasi dengan catatan 911 jiwa. Kemudian Kota Depok sebanyak 845 jiwa, Kabupaten Cirebon dengan 659 jiwa, Kabupaten Bogor sebanyak 582 jiwa dan Kabupaten Pangandaran dengan 431 jiwa.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Jabar, I Gusti Agung Kim Fajar Wiyati Oka mengatakan, pendataan data anak yang kehilangan orang tuanya masih terus dilakukan.

Sedangkan menurut rentang usia, anak-anak yang berusia 17 tahun yang paling banyak kehilangan orang tua. Dari data sementara, saat ini terdapat 356 anak yang kehilangan orang tuanya.

"Untuk usia paling banyak yaitu di usia 17 tahun yang sementara ini mencapai 356 anak, ini masih akan terus di-update," ujarnya, Jumat, 3 September 2021.

DP3AKB sendiri saat ini akan terus melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah di tingkat kabupaten/kota melalui dinas pengampu urusan pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak. Kemudian OPD provinsi lintas sektor dalam rangka pendataan dan penanganannya.

"Kemudian menyusun rencana aksi penanganan sebagai pedoman atau dasar penanganan yang meliputi pendataan, pendampingan psikososial, pengasuhan anak, bantuan dasar dan spesifik anak, perlindungan anak dan kebijakan," ujarnya.

Kepala Dinsos Jabar Dodo Suhendar mengatakan saat ini, pihaknya masih terus melakukan validasi dan cleansing data. Menurutnya, data yang disajikan masih bersifat sementara, dalam artian kemungkinan bisa bertambah atau berkurang karena masih harus mencocokan dengan data di kabupaten/kota.