Pekerja Mogok Freeport "Ancam" Presiden Jokowi

Senin, 11 Februari 2019 – 11:00 WIB

Pekerja mogok yang di-PHK sepihak PT Freeport Indonesia, sedang berbaring di Taman Aspirasi Monas, Jakarta Pusat (Foto-foto REQnews/Bosko)

Pekerja mogok yang di-PHK sepihak PT Freeport Indonesia, sedang berbaring di Taman Aspirasi Monas, Jakarta Pusat (Foto-foto REQnews/Bosko)

JAKARTA, REQnews - Hingga hari ini, Senin (11/2/2019), sejumlah 50-an pekerja mogok yang di-PHK sepihak oleh PT Freeport Indonesia (PTFI) masih bertahan di Taman Aspirasi, Jakarta Pusat. Mereka tidak meninggalkan taman yang terletak di seberang Istana Merdeka atau di depan pintu gerbang barat Monumen Nasional (Monas) itu, hingga Presiden Jokowi bersedia menemui mereka.

Pada hari ke-6 atau malam kelima, Jumat (8/2/2019), 50-an pekerja mogok yang mewakili 8300-an pekerja yang di-PHK sepihak oleh manajemen PTFI ini membuat video tuntutan sekaligus "ancaman" kepada Presiden Joko Widodo atau Jokowi. Video berdurasi 6 menit 49 detik itu kemudian diunggah melalui REQTV (REQnews) pada hari yang sama. Hingga Senin (11/2/2019) video tersebut telah ditonton oleh 4.315 orang, 26 komentar dan 265 tanda suka.


Video diawali dengan potongan-potongan aktivitas dan suasana keberadaan mereka di Taman Aspirasi.Selanjutnya Arnon Merino, perwakilan pekerja, membacakan keluh kesah sekaligus tuntutannya kepada Jokowi. Di akhir pembacaan keluh kesah dan tuntutan, mereka meneriakkan yel dan nyanyian bersama. Lagu tersebut diciptakan oleh para pekerja sendiri dengan syair yang kontekstual sesuai situasi dan kondisi mereka saat ini.

Berikut petikan keluh kesah dan tuntutan para pekerja kepada Presiden Jokowi:



Bapak Presiden yang kami cintai,

Kami adalah perwakilan 8300 pekerja yang di-PHK sepihak oleh PT Freeport Indonesia (PTFI).

Bulan Mei 2017 kami mogok resmi sesuai undang-undang. Kami menuntut penjelasan manajemen tentang kebijakan furlough terhadap 300 rekan pekerja tanpa kepastian. Kami kaget dengan kebijakan itu karena tidak diatur dalam UU Ketenagakerjaan (RI). Ehh..., bukannya penjelasan malah dibuat ultimatum kepada kami (yang mogok) sampai akhirnya manajemen Freeport kami mengundurkan diri dari pekerjaan kami.

Sudah begitu Pak, BPJS kesehatan kami diblokir dan gara-gara itu sampai hari ini sudah 39 rekan kami meninggal dunia. Rekening kami pun diblokir oleh-nya.


Pak Jokowi,

Kami sudah berjuang ke mana-mana, kami lelah Pak.

Pak, minta tolong, sejak bulan Juli, 22 Juli 2018,kami melakukan perjalanan kapal laut 10 hari perjalanan hingga tiba di Jakarta 1 Agustus 2018. 70-an orang datang ke Jakarta untuk berjuang bersama Lokataru, sudah ke mana-mana di Jakarta. Hanya Ombudsman dan Komnas HAM yang merespon kami Pak Jokowi. Pak Jokowi, yang lainnya, anak buah bapak itu, Pak Hanif Dhakiri sebagai Menteri Tenaga Kerja, tidak mau menemui kami, padahal 3 malam kami tidur di halaman kantor Kementerian Tenaga Kerja. Nyatanya, di sosmed, Pak Hanif main gitar di acara kawinan anak menteri, anak Menteri Sekretaris Negara. Sekarang Pak Hanif sibuk urus caleg dirinya sendiri. Seharusnya Pak Hanif melindungi kami Pak Jokowi sebagaimana nawacita.

Pak Jokowi, katanya merakyat, pandanglah kami rakyatmu juga. Janganlah pandang bulu seperti para artis maupun orang yang beprestasi Pak Jokowi.


Pak Jokowi, kami sudah enam bulan di Jakarta, dan saat ini sudah enam hari lima malam di depan istanamu. Undanglah kami ke Istana Bapak. Dengarlah keluh kesah kami. Jangan dengar dari Freeport atau anak buah Bapak saja. Tolong kami Pak Jokowi yang sedang susah. Dengarkanlah jeritan keadilan kami. Mohon keadilan dan kebijaksanaan.

Bapak, jangan biarkan kami dibunuh perlahan. Kami tidak akan pulang ke Papua atau pun meninggalkan Taman Aspirasi sampai Bapak mau menerima kami mau bertemu dengan Bapak.(*/Ris/Saf/Hans/Bos)