Yang Sebut Santri Enggan Dengar Musik Tanda Esktremisme Mainnya Kurang Jauh! Nih Penjelasan Kemenag

Kamis, 16 September 2021 – 10:02 WIB

Dokumen istimewa

Dokumen istimewa

JAKARTA, REQnews - Direktur Pendidikan Diniyah Dan Pondok Pesantren, Kementerian Agama, Waryono merespons banyaknya komentar nyinyir soal video yang beredar di media sosial terkait sekelompok orang yang diduga sebagai santri tengah menutup kuping ketika ada diputarkan lagu di duga di tempat vaksinasi.

Ditegaskannya, bahwa para santri yang menutup telinga karena enggan mendengarkan musik bukan tanda-tanda menganut paham ekstremisme. Dijelaskan Waryono, ada pandangan dan respons yang berbeda satu sama lain di pesantren terkait musik. Diungkapkannya, ada kiai pengasuh pesantren yang memperbolehkan santrinya mendengarkan musik.

Di sisi lain, juga ada yang tak memperbolehkannya. "Jadi itu bukan tanda-tanda ekstremisme. Boleh dan tak boleh ini tergantung pada mahzab kiai," kata Waryono, Rabu 15 September 2021. Pertimbangan umum pengasuh pesantren tak memperbolehkan santrinya mendengar musik, paparnya, karena santri masih kecil dan perlu banyak belajar.

Bahkan, kata dia, ada yang menilai musik menyebabkan lalai dan lupa sehingga proses belajar menjadi terganggu. Pasalnya, santri-santri juga diwajibkan untuk belajar menghafal Alquran dan banyak hal lainnya selama belajar di pesantren. Melihat hal itu, Waryono berharap masyarakat dapat melihat secara proporsional dan saling menghormati.

"Itu harus hafal semua. Itu butuh konsentrasi. Makanya kalau butuh konsentrasi kiai melarang jangan mendengarkan musik. Bahkan ada di pesantren-pesantren enggak boleh main HP, enggak boleh nonton TV. Itu bukan fenomena baru," kata dia.

Sebelumnya banyak pihak yang berkomentar terkait video tutup kuping para santri ketika terdengar musik. Salah satunya dari Putri Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, Yenny Wahid dan Ketua Rabithah Ma'ahid Islamiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (RMI PBNU) Abdul Ghofarrozin. Keduanya sepakat menyatakan video santri viral dengan narasi tengah menutup telinga di tengah lantunan musik bukan indikator bahwa mereka radikal.