Mengejutkan, Begini Hasil Uji Lab Kematian Ratusan Burung-burung di Bali

Jumat, 17 September 2021 – 17:28 WIB

Ratusan burung mati di Bali (Foto: Istimewa)

Ratusan burung mati di Bali (Foto: Istimewa)

BALI, REQnews - Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Gianyar, Made Santiarka mengungkap hasil uji laboratorium kematian massal burung pipit di area pekuburan di Kabupaten Gianyar, Bali.

Ia mengatakan bahwa hasil yang sudah keluar menunjukkan bahwa burung-burung tersebut tidak terkena penyakit infeksius. "Kematian burung-burung tersebut tidak mengarah pada penyakit infeksius. Itu saja hasilnya," kata Made Santiarka, Jumat 17 September 2021.

Santiarka menyebut bahwa hasil uji lab dari Balai Besar Veteriner (BBVet) Denpasar didapatkan pada Kamis 16 September 2021. Ia menyebut penyakit infeksius serangan mikroorganisme berupa bakteri, virus, jamur, dan parasit, namun tidak dengan kematian burung-burung tersebut.

Setelah pihaknya melakukan pemeriksaan histopatologi, dan hasil tes polymerase chain reaction (PCR) juga menunjukkan bahwa satwa tersebut negatif dari penyakit flu burung.

Hingga kini penyebab pasti kematian burung-burung tersebut belum diketahui, Santiarka menduga bahwa burung tersebut mati karena kondisi alam, seperti hujan deras dan angin kencang.

"Jadi kemungkinan pada saat hujan lebat tersebut ada gas, gas beracun terutama yang terhirup oleh burung-burung tersebut. Di samping itu juga karena terlalu banyak diguyur air, jadi dia agak keselek (tersedak)," ujarnya.

Dirinya pun menduga burung-burung tersebut masti karena kekurangan asupan oksigen. "Terlalu banyak numpuk juga burungnya, jadi kan asupan O2 atau asupan oksigen kurang. Jadi bisa saja karena kekurangan O2 juga dia mati," katanya.

Selain itu, menurutnya juga kemungkinan burung-burung tersebut bisa matinya karena makan-makanan yang beracun. "Jadi sementara akhirnya itu saja bahwa sampel yang kita kirim itu tidak mengarah pada penyakit infeksius. Itu saja. Untuk yang lainnya masih dugaan," lanjutnya.

Ia mengatakan bahwa pihaknya akan melakukan penelitian kembali, namun Santiarka menyerahkan keputusan tersebut kepada pihak lab.

"Kalau kita hanya menebak-nebak gitu kan enak pas. Dibilang hanya burungnya habis makan makanan beracun, tapi di mana dia dapat makan makanan beracun. Kan kita tidak bisa mengetahui," kata dia. 

"Ya kita kan sudah sampaikan terjadinya kejadian penyakitnya seperti ini. Terserah sekarang keaktifan dari pemeriksa. Kalau pengin tahu lebih jauh, ya silakan (diuji lebih jauh). Yang jelas ini kan masih aman karena dia tidak infeksius terhadap manusia, terhadap sesamanya di burung, terhadap hewan lain," lanjutnya.