Refly Harun Senggol Letjen Dudung Abdurachman, Pemerintah Jadi Faktor Membelah Umat Islam

Sabtu, 18 September 2021 – 09:03 WIB

 Panglima Kostrad (Pangkostrad) Letjen TNI Dudung Abdurachman

Panglima Kostrad (Pangkostrad) Letjen TNI Dudung Abdurachman

JAKARTA, REQnews - Ahli Hukum Tata Negara Refly Harun mengomentari pernyataan Panglima Kostrad (Pangkostrad) Letjen TNI Dudung Abdurachman soal fanatisme berlebihan terhadap agama karena semua agama itu benar di mata Tuhan. Menurut dia, pernyataan Dudung itu harus diletakan dalam konteks politik, bukan sebagai akidah atau ajaran.

Refly Harun mengatakan, Dudung merupakan sosok jenderal yang tahu betul sikap yang dibutuhkan pihak Istana.

"Jadi kalau mau dekat dengan pemerintah, maka anda bisa memilih statement mana yang mau didengarkan pemerintah saat ini. Dudung tahu betul pernyataan mana yang mau didengar pemerintah saat ini," ucap Refly dalam video yang tayang di kanal YouTube Refly Harun, Kamis, 16 September 2021.

Menurut dia, Dudung mengatakan semua agama sama, maka itulah yang ingin didengarkan lingkar Istana, BPIP. Ia tahu betul memainkan psikologis. Refly Harun mengatakan, pernyataan Dudung memang sesuai konteks politik yang sesuai dengan posisi Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Hal itu, kata Refly, akan bertentangan dengan sebagian kelompok Islam yang tidak masuk dalam struktural pemerintahan. Misalnya, PA 212, FPI, GNPF Ulama atau kelompok lainnya. Kelompok-kelompok yang mengambil jarak dengan pemerintahan ini dianggap fanatik, tidak pro NKRI, tidak Pancasilais dan radikal.

"Jadi ada yang diakomodir ada yang dimusuhi, bahkan jadi objek sasaran dihina, dicaci bahkan dipenjara seperti Habib Rizieq. Maka yang terjadi adalah tidak ada persatuan. Pemerintah jadi faktor membelah umat Islam," ucap Refly Harun.

Oleh sebab itu, kata Refly, pernyataan yang dikeluarkan Dudung dekat dengan narasi yang dibangun oleh Istana.

Menurut dia, indikasi kedekatan Dudung dan Istana dapat dilihat dari beberapa peristiwa yang menghebohkan tanah air. Di antaranya, penurunan baliho Rizieq Shihab hingga hadir dalam rilis kasus pembunuhan 6 laskar FPI.

"Jadi ini soal jenderal yang loyal dan dicap jenderal merah putih, yang tidak fanatik dan pro Pancasila. Dengan politik itu ganjarannya sudah dapat (Dudung naik pangkat jadi Pangkostrad). Padahal dalam masa seperti itu tidak ada prestasi lain selain turunkan baliho, menantang perang FPI dan Rizieq Shihab," ucap Refly Harun.