Said Didu Ungkap Modus Sentul City Klaim Tanah Rocky Gerung

Sabtu, 18 September 2021 – 10:18 WIB

Ekonom Senior Said Didu

Ekonom Senior Said Didu

JAKARTA, REQnews - Ekonom senior Said Didu menjelaskan modus Sentul City klaim tanah yang dihuni Rocky Gerung. Menurut dia, Sentul City bekerja sama dengan aparat agar klaim tanah di wilayah tersebut aman, bahkan ada moratorium agar tidak terjadi transaksi jual beli tanah kecuali untuk dan atas kepentingan pengembang.

"Bagaimana bisa menguasai lahan seperti itu? Mereka (para mafia tanah) ini bekerja sama dengan aparat, kemudian pemerintah daerah agar di daerah tersebut tidak boleh ada jual beli (tanah). Setelah itu, maka turunlah pembeli mereka, yang disuruh membeli tanah garapan itu dengan harga tinggi," ucap Said Didu dari kanal YouTube MSD, Jumat, 17 September 2021.

Said Didu mengatakan, moratorium jual beli tanah tersebut baru dapat dicabut setelah 80-90 persen lahan yang tersedia telah dibeli untuk dan atas kepentingan Sentul City. Caranya, kata dia, Sentul City membeli tanah tersebut menggunakan tangan orang lain atau perantara, kemudian mengganti biaya yang telah dikeluarkan orang tersebut (ditambah dengan komisi sesuai kesepakatan).

"Baru setelah sekitar 80-90 persen sudah dibeli oleh orangnya dia, baru dihubungi camat dan bupati untuk boleh jual beli. Anggaplah saya ini juru beli pengembang, setelah saya beli semua tanah itu maka pengembang membeli dari saya," ucap Said Didu.

Ia mengatakan, agar modusnya berjalan lancar, Sentul City menggunakan jurus teror dengan berbagai cara, termasuk dengan mengerahkan oknum anggota ormas tertentu atau preman bayarnya. Sehingga, kata Said Didu, masyarakat yang telah lama menjadi penghuni di wilayah tersebut mau tidak mau terpaksa harus menjual tempat tinggalnya kepada Sentul City.

"Untuk menguasai seperti itu maka akan terjadi teror-teror yang masalahnya teror ini dilakukan oleh perkumpulan atau ormas-ormas tertentu dan dibayar juga oleh mereka. Sehingga masyarakat memilih daripada kita susah mending kita jual sajalah, harganya sudah bagus menurut standar saat itu," ucap dia.

Menurut Said Didu, jika opsi tersebut tak diambil, Sentul City menggunakan 'pendekatan khusus' yakni dengan mengirimkan somasi sekaligus menekan penghuni untuk segera meninggalkan wilayah tersebut, seperti yang terjadi pada Rocky Gerung.

"Setelah berkumpul semua, maka mungkin ada tersisa kayak Rocky Gerung yang enggak mau. Ya udah nanti ada 'pendekatan khusus'. 'Pendekatan khusus' dengan berbagai cara, dengan harga tertentu atau dengan penekanan," ujar dia.

Selain itu, kata Said Didu, ada kejanggalan perihal cara pengukuran yang dilakukan Sentul City, dalam hal ini jarak antara real estate yang telah dibangun dengan rumah Rocky Gerung sebagai dasar untuk melakukan penggusuran.

"Tapi lucunya, yang dimulai itu di kilometer 5,5 kira-kira, bukan dari bawah ke atas tapi dari atas dimulainya. Sangat lucu, masak mulai pembangunan dari situ padahal jalan naik sampai ke sana (rumah Rocky Gerung) itu lebarnya tiga meter," ujar Said Didu.

Menurut dia, cara tersebut hanyalah akal-akalan pihak Sentul City demi tetap menguasai tanah karena mengaku telah mengantongi klaim kepemilikan di wilayah tersebut.

"Jadi menurut saya, ini hanyalah cara untuk meneror Rocky Gerung karena logika bisnisnya harusnya dimulai dari pinggiran real estate yang sudah dimiliki oleh Sentul City, bukan mulai dari atas," ujarnya.