Prajurit Taliban Bergaya, Kebanyakan Selfie, dan Berwisata, Menhan Afghanistan Marah

Minggu, 26 September 2021 – 08:41 WIB

Foto: Al Arabiya

Foto: Al Arabiya

Kabul, REQNews.com -- Taliban memperingatkan prajuritnya untuk tidak banyak mengambil foto narsis alias selfie, dan jalan-jalan dari satu ke lain tempat wisata.

Wall Street Journal melaporkan Menteri Pertahanan (Menhan) Afghanistan Mawlawi Mohammad Yaqoob memanggil seluruh komandan prajurit dan memarahi mereka, sebagai upaya menghentikan perilaku prajuritnya.

Ribuan prajurit Taliban memasuki Kabul setelah kelompok itu menguasai Afghanistan pada 15 Agustus.

Ketika tidak bertugas, prajurit menghabiskan sehari penuh berjalan dari satu ke lain taman hiburan, dengan membawa senjata dan mengenakan sorban. Banyak dari mereka yang datang dari kota-kota di dekat Kabul.

Bagi mereka, mengunjungi Kabul adalah perjalanan wisata. Ibu kota Afghanistan itu, yang tentu saja berubah dalam 20 tahun pendudukan AS dan NATO, menjadi tujuan wisata prajurit yang punya kenangan akan kota itu.

Prajurit Taliban berusia 40 tahun ke atas dibuat penasaran dengan perubahan yang terjadi di Kabul. Mereka juga rindu akan ibu kota yang pernah mereka lihat 20 tahun lalu.

Kepada komandan pasukan, Menhan Mohammad Yaqoob mengatakan; "Tetap pada tugas yang telah diberikan kepada kalian. Kalian merusak status kami yang dibuatdengan darah para martir."

Menhan Mohammad Yaqoob secara khusus memperingatkan prajurit Taliban untuk tidak berforo narsis, dan memposting di media sosial. Menurutnya, perilaku itu mengkhianati informasi tentang lokasi dan aktivitas anggota kelompok.


Prajurit Berubah, Komandan Marah

Tidak sedikit prajurit Taliban yang memasuki Kabul mengubah penampilan. Ada yang menanggalkan sorban dan mengenakan seragam tentara AS, lengkap dengan sepatu laras dan peci.

Tukang cukur di pinggiran jalan kebanjiran prajurit Taliban yang pangkas jenggot, cambang, dan rambut. Ada yang sekedar merapikan identitas itu, tapi tak sedikit yang mencukur habis jenggotnya.

Di jalan-jalan tertentu di Kabul, prajurit Taliban yang bertugas tampil dengan pakaian bergaya Barat, rambut sebahu, kacamata hitam, dan sepatu kets putih tinggi Sevis Cheetah.

Semua itu bukan tidak diperhatikan petinggi Taliban. Menhan Mohammad Yaqoob, misalnya, mengingatkan mereka untuk kembali ke identitas lama; berjanggut dan berambut, dan mengenakan pakaian lama sesuai interpretasi keras mereka terhadap aturan Islam.

"Itu adalah perilaku panglima perang dan gengster rezim boneka," kata Mohammad Yaqoob, merujuk pada komandan tempur pemerintah Afghanistan bentukan AS dan NATO yang digulingkan Taliban.

"Jika kita terus bertindak seperti ini, Allah Swt melarang. Kita akan kehilangan sistem Islam kita," lanjutnya.


Tak Berubah

Setelah menguasi Afghanistan, Taliban sempat meluncurkan serangan pesona untuk mengubah citra keras mereka pada era 1996-2001, ketika mereka mengeksekusi kriminal di depan umum dan mencambuk orang yang tidak shalat.

Tampaknya Taliban tak banyak mengubah nilai-nilai inti. Mullah Nooruddin Turabi, salah satu pendiri Taliban, mengatakan eksekusi dan amputasi akan kembali diterapkan. Itu hukuman yang diperlukan utnuk menjaga keamanan di Afghanistan.

Taliban akan membentuk polisi moral yang berada di bawah Kementerian Promosi Kebajikan dan Pencegahan Kejahatan. Polisi akan bertindak sesuai buku pegangan.

Dalam buku itu, seperti dilaporkan The Guardian, terdapat aturan yang memungkinkan penggunaan kekerasan untuk mengakan interpretasi Taliban tentang Syariah. Misal, perempuan hanya bolah meninggalkan rumah jika ditemani wali laki-laki. Kontak perempuan dan laki-laki dibatasi pada keluarga dekat.