Bongkar Penyebab Kematian KPPS, Ini Fakta yang Ditemukan Peneliti UGM

Selasa, 25 Juni 2019 – 19:30 WIB

Tim Peneliti Kajian Lintas Disiplin UGM memaparkan temuannya terkait penyebab kesakitan dan kematian petugas KPPS di Gedung KPU, Jakarta (Foto: Istimewa)

Tim Peneliti Kajian Lintas Disiplin UGM memaparkan temuannya terkait penyebab kesakitan dan kematian petugas KPPS di Gedung KPU, Jakarta (Foto: Istimewa)

JAKARTA, REQnews - Penyebab kematian petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) Pemilu 2019 akhirnya terungkap. Tim peneliti dari Universitas Gadjah Mada (UGM) mengungkapkan bahwa beban kerja yang sangat tinggi, menjadi penyebab para petugas KPPS jatuh sakit bahkan sampai meninggal dunia.

Dalam temuannya, tim peneliti menyebutkan beban kerja tersebut berkisar 20 hingga 22 jam pada hari pelaksanaan pemilu. Yakni dengan rincian 7,5 hingga 11 jam untuk mempersiapkan TPS, 8 jam hingga 48 jam untuk mempersiapkan dan mendistribusikan undangan.

“Temuan utama adalah beban kerja yang ada di masing-masing TPS (tempat pemungutan suara). Yang kami ukur adalah waktu kerjanya, ada empat kegiatan utama yakni penyiapan dan distribusi surat suara, penyiapan TPS dan pelaksanaan pemilu,” kata peneliti Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) UGM, Riris Andono Ahmad di Jakarta, Selasa 25 Juni 2019.

Riris menambahkan, terdapat sekitar 30 persen petugas TPS di DIY melaporkan adanya kejadian yang mengganggu jalannya pemilu. Sementara 20 persen terkait dengan administrasi yang rumit, perhitungan suara dan pengetahuan petugas terkait teknis.

Selain beban kerja saat pemilu, Riris juga menyoroti ada beberapa petugas yang masih bekerja paruh waktu di luar perannya sebagai petugas pemilu. “Beberapa petugas TPS masih melakukan pekerjaannya seperti biasa sehingga menyebabkan beban kerjanya makin tinggi,” kata dia.

Dalam survei yang menggunakan metode random sampling tersebut, peneliti UGM memilih 400 TPS dari 11.781 TPS di DIY untuk digunakan sebagai sampel.

Namun menurut Koordinator Kajian Lintas Disiplin UGM, Abdul Gaffar temuannya itu merupakan data awal dan belum bisa dijadikan sebagai bahan rekomendasi untuk KPU maupun lembaga legislatif terkait peraturan perundang-undangan pemilu.

Berdasarkan temuan survei, penyebab atau meningkatnya risiko terjadinya kematian atau kesakitan petugas diduga karena riwayat penyakit kardiovaskular yang sudah dimiliki, beban kerja petugas yang sangat tinggi sebelum, selama, dan sesudah hari pemilihan, adanya kendala terkait bimbingan teknis (bimtek), logistik, dan kesehatan.

Sebelumnya, menurut data dari KPU RI tanggal 4 Mei 2019 menyebutkan jumlah petugas Pemilu 2019 yang meninggal sebanyak 440 orang, sedangkan petugas yang sakit 3.788 orang. Sedangkan data Kemenkes hingga 15 Mei 2019 menyebutkan terdapat 498 jiwa petugas KPPS (Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara) meninggal yang tersebar di 24 provinsi.