Budiman Sujatmiko Debat di Twitter Bareng Fadli Zon, Kenapa Pakai Kata Kafir?

Minggu, 10 Oktober 2021 – 15:32 WIB

Politisi Gerindra Fadli Zon

Politisi Gerindra Fadli Zon

JAKARTA, REQnews - Berawal dari cuitan Budiman Sudjatmiko di akun Twitter miliknya, memancing Fahri Hamzah bereaksi melayangkan argumen. Budiman mencuitkan soal peristiwa peledakan masjid di Kabul, Afghanistan yang menewaskan puluhan jemaah. Ia menuliskan kalau pelakunya bukan merupakan golongan kafir.

Menurut Fadli Zon, peristiwa tersebut dikaitkan dengan isu Densus 88 di Indonesia yang mesti dibubarkan, Indonesia akan mengalami peristiwa yang serupa.

"Yang meledakkan masjid dan menewaskan puluhan jama'ahnya di Kabul ini bukan orang-orang "kafir". Sudah 3 kali kejadian serupa dalam seminggu. Kebayang kalau Densus 98 di Indonesia dibubarkan, pesta pora aksi-aksi teroris seperti ini," ucap Budiman melalui akun Twitternya @budimansudjatmiko, Sabtu. 9 Oktober 2021.

Cuitan itu kemudian dibalas oleh Fahri Hamzah. Ia mengatakan Budiman tidak memiliki dasar yang kuat untuk menyampaikan argumennya soal teroris dan menghubungkannya dengan Densus 88.

"Tapi anda gak jelas mau menjelaskan apa? Negara gagal anda mau samakan dengan kita? Kenapa pakai kata kafir? Anda ngerti gak sih? Kritik kepada lembaga negara yg pakai APBN harus dijawab secara rasional bro. Negara vs negara aja," cuit Fahri melalui akun Twitternya @Fahrihamzah.

Setelah itu, Fahri kembali mengatakan kepada Budiman untuk tidak miskin kosakata ketika hendak menyampaikan argumen. Sebagai orang yang dianggapnya paling pintar di antara pendukung pemerintah, Fahri menilai seharusnya Budiman bisa menggunakan diksi yang lebih cermat.

"Mas @budimandjatmiko yang terhormat, ente mungkin paling pintar di antara pendukung pemerintah.. ya tetep pintar dong… kasih pencerahan ke dalam. Masak kosa kata nggak nambah-nambah sih," ucap Fahri.

Budiman lantas menjawab kalau dirinya hanya akan menggunakan kosa kata baru apabila ada fenomena-fenomena baru saja. Apabila isu yang dibahas masih berupa fenomena serupa, maka ia enggan untuk menambah kosa kata.

Debat tidak berhenti sampai di situ. Fahri lantas melebarkan debat dengan menyinggung soal negara yang gagal memberantas korupsi dan narkoba.

Ia bertanya kepada Budiman negara mana yang mesti disalahkan akan kondisi tersebut. Bukan hanya itu, Fahri kembali menyerang Budiman dengan pertanyaan lain.

"Atau kalau pakai afghanistan, kalau mereka gagal jadi negara moderen seperti kita. Yang salah Amerika, taliban, ISIS, atau Islam?" kata Fahri.

"ISIS relatif pemain baru di Afghanistan. Amerika dan Taliban pemain lama.. Islam? Ada banyak negara mayoritas Musim yang tak gagal. Dan aku mau Indonesia bagian dari yang tak gagal itu," ucap Budiman.

Debat terus berlanjut sampai akhirnya Fahri menilai kalau di Indonesia kerap gagal karena masih menuduh Islam sebagai bagian dari teroris. Menurut dia, hal tersebut tengah diperbaiki supaya Indonesia bisa lebih maju.

"Kegagalannya adalah karena gagal menghilangkan bau tuduhan kepada Islam..dan lebih buruk lagi karena negara terseret menuduh Islam…ini yang ingin kita perbaiki supaya peradaban politik negara kita lebih maju.. ini yang sekarang sudah diperbaiki di negara-negara asal kampanye sesat ini..," ucap dia.

Budiman pun menjadi sependapat dengan Fahri kalau Islam kerap menanggung beban dengan cap teroris. Tetapi ia menilai kalau bukan hanya Islam saja yang memiliki beban itu.

"Ya, Islam menanggung beban itu. Seperti Hindu menanggung beban terorisme di Srilanka atau Katholik dan Protestan di Irlandia Utara. Karena itu harus lebih banyak tokoh Islam mengecam terorisme sambil mengajak umat menjemput masa depan yang enggak ada preseden masa lalunya," cuit Budiman.