Petunjuk Baru Pembunuhan Subang, Ada Aliran Dana Tak Wajar dari Rekening Amalia

Senin, 11 Oktober 2021 – 11:48 WIB

Pembunuhan ibu dan anak di Subang Jawa Barat. (Foto: Istimewa)

Pembunuhan ibu dan anak di Subang Jawa Barat. (Foto: Istimewa)

SUBANG, REQnews - Pengungkapan kasus pembunuhan ibu dan anak di Subang masih terus dilakukan Kepolisian mulai dari Polres Subang, Polda Jawa Barat, hingga Mabes Polri. Kasus pembunuhan Tuti Suhartini dan Amalia Mustika Ratu terbilang unik, sudah 53 hari namun pelaku belum juga tertangkap.

Polisi kini tengah melakukan pendalaman terkait petunjuk baru pada rekening Amalia yang juga berisi aliran dana yayasan lantaran Amalia Mustika Ratu diketahui merupakan bendahara yayasan yang didirikan oleh Yosef.

Polisi mencurigai adanya aliran dana tak biasa pada rekening milik Amalia, yang mengarah kepada petunjuk baru atau bahkan pelaku pembunuhan. Dalam pemeriksaan rekening Amalia, polisi turut meminta keterangan Yosef Hidayah, ayah Amalia dan suami dari Tuti.

Pemeriksaan Yosef pada Jumat, 8 Oktober 2021 merupakan pemeriksaan yang ke-14. Selain itu, pemanggilan Yosef pada hari itu berkaitan dengan pembukaan rekening bank atas nama anaknya, Amalia Mustika Ratu.

Kuasa hukum Yosef mengatakan, belum menerima konfirmasi lanjutan dari kepolisian terkait pembukaan rekening Amalia dari perbankan. Namun sejumlah syarat untuk mencetak atau print out rekening koran milik korban Amalia sudah disiapkan.

"Untuk perbankan, kami belum ada konfirmasi lagi. Apa yang diminta oleh penyidik dan perbankan sudah kami siapkan. Seperti keterangan ahli waris, KK, KTP. Kita tinggal menungu konfirmasi dari pihak penyidiknya," ucap Pengacara Yosef.

Kuasa hukum Yosef mengatakan, saat rekening Amalia diperiksa dan dicurigai, ponsel milik Yosef  disita polisi dan belum dikembalikan hingga kini.

“Untuk barang-barang, ada salah satu barang yang belum dikembalikan, seperti handphone-nya pak Yosef ya,” ujar Fajar Sidik.

Pemeriksaan terhadap rekening bank milik Amalia Mustika Ratu, mencuat setelah disinyalir adanya motif dari kasus Subang tersebut. Selain motif sosial, asmara juga diselidiki terkait dugaan motif harta.

Selama penyidikan berlangsung, polisi sempat memintai keterangan sejumlah saksi terkait adanya motif harta tersebut, terutama aset milik Yosef dan keluarga. Diketahui, aset yang ikut terseret dalam kasus Subang itu berupa Yayasan Bina Prestasi Nasional.

Putra Yosef Yoris mengatakan ada konflik dalam tubuh yayasan Bina Prestasi Nasional yang didirikan sang ayah.

Sedangkan dirinya, sebagai anak tertua berperan sebagai pengelola yayasan.

Kedua korban Tuti dan Amalia juga ikut serta dalam pengelolaan yayasan tersebut sebagai Bendahara dan Sektretaris.

Setelah istri dan anaknya menduduki jabatan penting di yayasan tersebut, Yosef, dari pengakuan Yoris hanya sebagai pengawas atau pengontrol.

Yoris sendiri mendapatkan gaji dari pengelolaan yayasan sekira Rp 12 juta per bulan. Sedangkan, Tuti dan Amalia juga mendapatkan gaji masing-masing Rp 10 juta.

Sementara itu sang ayah, kata Yoris tak sama sekali mendapat gaji dari pengelolaan yayasan lantaran keuangannya sudah diatur oleh sang ibu, Tuti.

"Tidak (dapat keuntungan), sudah dicut sama mamah karena papah itu boros orangnya. Cuma kalau papah minta uang sedikit untuk transpot, terus untuk baju dari mamah langsung," ucap Yoris.

Karena tak mendapat gaji, Yoris mengatakan sang ayah yang kerap memintainya uang.

Selain meminta uang kepada dirinya, Yosef juga meminta uang kepada Amalia karena selaku bendaraha yang mengelola yayasan.

Yoris juga menjelaskan Yosef bisa meminta uang hanya untuk operasional kebutuhan yayasan, semisal dana transportasi dan baju.

Saat ditanya bagaimana keuangan Yosef untuk menghidupi istri mudanya, Yoris mengaku dirinya tak mengetahuinya.

"Kayanya gak deh, saya gak tau itu (uang untuk istri muda)," kata Yoris.

Lantas Yoris membeberkan alasan Tuti memutus jatah uang atau bagian sang ayah dari pengelolaan yayasan tersebut.

Yoris menceritakan saat itu pernah terjadi konflik internal keuangan di yayasan.

Sebelum dijabat oleh Yoris, Tuti dan Amalia Mustika Ratu, posisi tersebut diisi oleh Yosef bersama istri mudanya, Mimin dari 2009 hingga 2017.

Selama dijabat Mimin, istri muda Yosef, keuangan yayasan sangat amburadul.

"Pernah di 2009 pertama awalan itu papah sama istri mudanya pernah mengelola. uang kaya gitu banyak yang di ini lah," terang Yoris.

"Kacau, jadi kaya bukan sekolah. jadi kalau dibilang kaya sekolah-sekolahan," kata Yoris.

Menurut Yoris, saat menjadi bendahara, Mimin menagih uang sampai ke rumah siswa.

"Nih yah buka-bukaana aja, masalah keuangan dia itu ngambil uang ke siswanya ke rumah, tidak prosedural, tidak menggunakan manajamen sekolah yang bener," kata Yoris.

Pada tahun 2018, atas hasil musyawarah yang juga usulan Yosef, Amalia Mustika Ratu pun resmi menduduki jabatan bendahara.

Tak disangka, di tangan Tuti dan Amalia, yayasan pun mengalami dampak kemajuan.

Dari keterangan Yoris sebelumnya, atas prestasi Tuti dan Amalia tersebut keduanya mendapatkan hadiah berupa mobil.

Mobil Toyota Alphard yang menjadi saksi bisu dalam perampasan nyawa Tuti dan Amalia itulah mobil yang diduga hadiah tersebut.

Sementara itu, Amalia juga mendapatkan hadiah mobil Toyota Yaris.

Beda dengan pengakuan Yoris, Yosef mengaku mobil Toyota Alphard tersebut adalah pemberiannya untuk sang istri.

Saat ditanya apakah Yosef memiliki musuh atau utang piutang, diakui Yosef dirinya tak memiliki masalah tersebut.

Kemudian Yosef membeberkan bahwa Amalia Mustika Ratu adalah anak kesayangannya.

Bagi Yosef, Amalia sangat berperan penting untuknya karena yang mengelola keuangannya.

Kebutuhan Yosef dipenuhi dan diatur Amalia.

Hal itupun diakui Yosef berdasarkan keinginannya karena mengaku dirinya boros dalam mengelola keuangan.

Sementara terkait permintaan penyidik dalam memeriksa aliran transaksi di rekening bank milik korban Amalia Mustika Ratu, tim kuasa hukum belum mendapat konfirmasi lanjutan dari pihak penyidik.