Terungkap, Ternyata Sang Ayah yang Membunuh Bocah 13 Tahun di Karangasem

Kamis, 14 Oktober 2021 – 13:35 WIB

Ilustrasi mayat (foto:Istimewa)

Ilustrasi mayat (foto:Istimewa)

BALI, REQNews - Kematian Kadek Sepi (13), pelajar kelas enam SD asal Desa Purwakerti, Kecamatan Abang, Karangasem akhirnya terungkap. Polisi mengungkap bahwa pelaku pembunuhan adalah sang ayah.

Terbangkarnya kasus penganiayaan ini setelah polisi menerima hasil autopsi Tim Forensik RSUP Sanglah, bocah itu dinyatakan meninggal dianiaya.

Pelakunya ternyata I Nengah Kicen (32) yang merupakan ayah korban.

Kapolres Karangasem AKBP Ricko Abdillah Andang Taruna mengatakan, sendi tulang leher Kadek Sepi terlepas hingga merobek pembuluh nadi.

"Penyebab kematian karena terlepasnya sendi tulang lehar dan menimbulkan robekan pembuluh nadi yang berada sekitar saluran penonjolan tulang belakang," ujar AKBP Ricko, Rabu 13 Oktober 2021.

Ia menceritakan kekerasan berujung kematian bermula dari rasa kesal Kicen terhadap anaknya.

Kadek Sepi bermain layangan bersama adiknya sejak pagi dan tidak mau membantu pekerjaan orangtuanya.

Setelah pulang dan bertemu anaknya amarahnya membuncah. Kicen memukul anaknya hingga meninggal.

Berdasarkan keterangan sejumlah saksi, pemukulan dilakaukan dengan benda tumpul terjadi saat ibu dan adiknya sedang membuat canang di emperan rumah.

Pertama Kicen memukul kepala Kadek Sepi dengan tangan. Setelah itu memukul dengan pedang-pedangan terbuat dari kayu.

Belum puas ia mengambil bambu dan memukul anaknya di bagian kepala dan leher hingga terjatuh ke lantai dengan kondisi kejang-kejang.

Setelah itu, Kicen mengangkat anaknya dan dibawa ke kamar.Kicen mengambil baju untuk membekap mulut dan hidung anaknya yang menjerit kesakitan.

Kicen kemudian meninggalkan anaknya di kamar. Beberapa menit setelah kejadian, Sepi dinyatakan meninggal. Luka lebam diketahui dua hari setelah meninggal atau saat jenazah dimandikan.

Atas perbuatannya itu, tersangka dikenakan pasal 80 ayat (4) jo pasal 76C UU Nomor 35 Tahun 2014, tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2003 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun.

Karena dilakukan orangtuanya, ancaman pidana ditambah 1/3 dari 15 tahun atau menjadi 20 tahun subsider Pasal 44 ayat (3) UU RI No 23 Tahun 2004 tentang Kekerasan Dalam Rumah Tangga atau PKDRT.