Begini Strategi Jitu Kopassus Menangkap Mbah Suro, Dukun Sakti Pelindung PKI

Kamis, 14 Oktober 2021 – 18:03 WIB

Kopassus (Foto: Istimewa)

Kopassus (Foto: Istimewa)

JAKARTA, REQnews - Komando Pasukan Khusus (Kopassus) saat peristiwa berdarah 30 September diterjunkan mencari Mbah Suro dan pengikutnya. 

Untuk menangkap dan membubarkan praktek perdukunan Mbah Suro, Kopassus membuat strategi khusus untuk meringkus dirinya. Dalam buku "Sintong Panjaitan Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando", karya Hendro Subroto dijelaskan bahwa Kopassus terpaksa menggunakan kekerasan karena gagal menggunakan jalan damai.

"Pangdam terpaksa memerintahkan agar penutupan dilakukan dengan jalan kekerasan, karena segala upaya jalan damai yang ditempuh telah menemui jalan buntu," tulis Hendro.

Penyerbuan padepokan Mbah Suro dilakukan Kodam VII/ Diponegoro beserta satu Kompi RPKAD (Sebelum berganti nama menjadi Kopassus) di bawah pimpinan Feisal Tanjung. Dengan penyerbuan itu, Mbah Suro pun berhasil ditaklukkan.

Peristiwa 30 September merupakan sejarah kelam bagi bangsa Indonesia, dimana pada subuh berdarah tersebut, pasukan Cakrabirawa di bawah komando Letkol Untung menewaskan sejumlah Jenderal TNI Angkatan Darat dan seorang perwira.

Usai peristiwa berdarah itu, pemerintah melancarkan perburuan besar-besaran terhadap anggota PKI. Siapapun yang dianggap sebagai anggota maupun simpatisan PKI menjadi target peburuan yang saat itu berlangsung di sejumlah daerah.

Saat itu sedang terjadi pemburuan atas seorang dukun bernama Mbah Mulyono Surodiharjo, yang dikenal sebagai dukun sakti dan sering mengobati orang sakit.

Pemerintah, khususnya pihak militer melihat Mulyono Surodiharjo, biasa disapa Mbah Suro, telah ditunggangi oleh PKI. Tidak tanggung-tanggung Mbah Suro, selain mampu mengobati orang sakit, diketahui memiliki ilmu sakti yang membuatnya kebal senjata. Mbah Suro bahkan mampu membuat pengikutnya memiliki kesaktian yang sama seperti dirinya.

Sebelum menjadi dukun di sebuah desa bernama Desa Ninggil, Mbah Suro pernah menjadi lurah. Dirinya beralih menjadi dukun dan membuka praktik untuk mengobati orang sakit setelah beberapa lama turun menjadi lurah.

Saat itu, Mulyono Surodiharjo melakukan pergantian nama baru menjadi Mbah Suro juga diikuti dengan perubahan penampilan. Salah satunya adalah memelihara kumis tebal dan rambut panjang layaknya seorang dukun.

Mbah Suro kerap melakukan berbagai kegiatan berbau mistis dan menyebarkan kepercayaan Djawa Dipa. Tidak hanya itu, Mbah Suro juga sering memberi jampi-jampi atau mantera dan air kekebalan kepada para muridnya, terlebih untuk mereka yang dianggap meresahkan.

Pengikutnya percaya bahwa mereka menjadi kebal terhadap senjata tajam dan senjata api berkat ajaran Mbah Suro.