Cina Sukses Uji Tembak Rudal Hipersonik, tapi Meleset 24 Mil dari Sasaran

Minggu, 17 Oktober 2021 – 12:25 WIB

Foto: Financial Times

Foto: Financial Times

Beijing, REQNews.com -- Cina menguji rudal hipersonik pembawa nuklir yang mampu menembus luar angkasa, mengelilingi Bumi, dan kembali memasuki atmosfer menuju sasaran.

Financial Times melaporkan uji coba yang dikonfirmasi lima pejabat ini membuktikan Cina memiliki kemampuan luar angkasa yang canggih, dan mengejutkan AS.

John Kirby, juru bicara Departemen Pertahanan AS, tidak akan mengomentari secara spesifik laporan itu. "Kami memperjelas kekhawatiran tentang kemampuan militer yang sedang dikejar Cina, kemampuan yang hanya meningkatkan ketegangan di kawasan dan sekitarnya," kata Kirby.

Menurut Kirby, itu sebabnya AS menganggap Cina sebagai tantangan nomor satu di masa depan.

Uji coba, menurut Sputnik News , berlangsung Agustus lalu. Rudal berpendorong boost glide diangkat ke luar angkasa oleh roket Long March 2C.

Rudal hipersonik itu dikabarkan meleset dari target sejauh 24 mil, tapi tetap menunjukan kemampuan Cina yang luar biasa. Sejauh ini, AS dan Rusia juga telah menguji rudal hipersonik.

Rusia menguji rudal hipersonik Juli lalu. AS berencana mempersenjatai semua kapal perusak Angkatan Laut dengan rual hipersonik.

Rudal hipersonik, yang mampu menggendong senjata nuklir, melesat lima kali kecepatan suara. Berbeda dengan rudal balistik, yang terbang ke luar angkasa seperti busur, hipersonik terbang di jalur penerbangan lebih rendah di atmosfer dan berpotensi mencapai target lebih cepat.

Lebih dari itu, rudal hipersonik sulit dihentikan. Mereka terbang dan bernamuver untuk menghindari deteksi dan berbelok untuk pencegahan defensif.

Bulan lalu Sekretarsi Angkatan Udar AS Frank Kendall dikabarkan memperingatkan bahwa Cina bisa memiliki kemampuan nuklir serangan pertama (first strike), dan berpotensi melakukan serangan global dari luar angkasa.

Kendall mendesak AS mempercdpat pengembangan senjata untuk menjaga perdamaian dengan Beijing. "Anda mungkin akan bosan mendengar saya berbicara tentang Cina sebagai ancaman yang kita hadapi," kata Kendall dalam konferensi pers beberapa jam setelah pidatonya.

Liu Pengyu, juru bicara pemerintah Cina, mengatakan kebijakan militer negaranya bersifat defensif. "Kami tidak memiliki strategi global dan rencana operasi militer seperti yang dilakukan AS," kata Liu.

"Kami juga tidak tertarik melakukan perlobaan senjata dengan negara lain," lanjutnya.