Praktik Prostitusi Online di Batam Berhasil Dibongkar Polisi

Selasa, 12 Februari 2019 – 09:00 WIB

Foto: Istimewa

Foto: Istimewa

JAKARTA, REQnews - Praktik prostitusi online di Kota Batam dibongkar personel Subdit IV Ditreskrimum Polda Kepulauan Riau (Kepri).

Seorang pria berinisial AS alias A diringkus petugas. AS merupakan muncikari yang menjajakan tujuh perempuan muda yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Diduga para perempuan muda itu, merupakan korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO).

Seperti dikutip dari jawapos.com, Kabid Humas Polda Kepri, Kombes S Erlangga mengungkapkan, tujuh perempuan muda itu diketahui identitasnya yakni, RS Alias E, 19, asal Pangandaran, Jawa Barat; NJ, 20, asal Cirebon, Jawa Barat; VR, 20, asal Purwakarta, Jawa Barat; MAF Alias C, 32, asal Medan, Sumatera Utara; FH Alias I, 32, asal Jakarta; WAW, 23, asal jawa tengah; dan L, 19, asal Medan.

“Tertangkapnya AS, bermula dengan aksi penyamaran. Dimana tim berpura-pura menjadi pemesan yang ingin memanfaatkan jasa yang ditawarkan AS melalui website. Setelah proses transaksi berlangsung dan disepkati untuk bertemu di salah satu lokasi di Batam, petugas langsung mengamankan AS bersama seorang wanita yang dijanjikan,” ujar Kombes S Erlangga.

Kegiatan AS, sudah dipantau sejak Desember 2018 lalu, dan akhirnya berhasil diamankan dengan memancingnya. Yakni anggota polisi berpura-pura jadi pelanggan.

Setelah itu, AS dan seorang korbannya digelandang ke Mapolda Kepri untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Dari pemeriksaan awal yang dilakukan, satu korban yang dijadikan PSK oleh AS adalah wanita asal Jakarta yang memang disiapkannya.

Adapun barang bukti yang berhasil diamankan dalam pengungkapan tersebut diantaranya, dua butir pil norelut norethusterone (obat penunda haid/pencegah kehamilan); dua lembar boarding pass batik air dari Halim Perdana Kusuma menuju Batam atas nama pelaku dan korban; satu buah flashdisk yang berisi video oral sex berdurasi 59 detik antara tersangka dan korban saat akan direkrut menjadi PSK; uang tunai senilai Rp 3.250.000,00 dan uang hasil rental mobil senilai Rp 500.000,00.

Selain itu, juga ada beberapa bukti transaksi untuk menunjang aktivitas mobilisasi pelaku dan korban. Atas perbuatannya, AS dijerat dengan pasal 2 Undang-Undang RI Nomor 21 tahun 2007 tentang pemberantasan tindak pidana perdagangan orang.

"Dengan ancaman paling singkat tiga tahun dan paling lama 15 tahun dan atau pasal 45 ayat (1) Undang-Undang RI nomor 19 tahun 2016 tentang perubahan atas Undang-Undang RI nomor 11 tahun 2008 tentang informasi dan transaksi elektronik junto pasal 64 ayat (1) kuhp," tandasnya. (nls)