Israel Main Kotor, Kini Serang Aktivis Palestina Pakai Spyware Pegasus

Selasa, 09 November 2021 – 13:04 WIB

Ilustrasi spyware Pegasus

Ilustrasi spyware Pegasus

JAKARTA, REQnews - Israel terus melakukan upaya-upaya untuk melemahkan gerakan-gerakan aktivis Palestina dengan berbagai cara yang tak bisa ditolerir.

Terbaru, Israel diduga bermain kotor dengan menanamkan spyware Pegasus buatan mereka, ke sejumlah ponsel warga Palestina yang bekerja untuk organisasi HAM.

Hal ini terungkap dalam pemeriksaan yang dilakukan Front Line Defenders (FDL) yang berbasis di Dublin, bahwa dari 75 ponsel milik aktivis HAM Palestina, enam di antaranya tertanam spyware Pegasus antara Juli 2020 hingga April 2021.

FDL adalah organisasi yang sudah dicap teroris oleh Israel, namun banyak membantu gerakan-gerakan HAM di Palestina.

Spyware ini pertama kali terdeteksi di ponsel aktivis Mohammad Al Maskati. Namun, ia juga bingung darimana dan siapa yang menempatkan perangkat pengintai berbahaya itu ke dalam gawainya.

Temuan FDL ini juga dikuatkan oleh hasil penelusuran independen Amnesty International dan Citizen Lab Universitas Toronto.

Laporan ini menyatakan empat dari enam iPhone yang diretas secara eksklusif menggunakan kartu SIM yang dikeluarkan oleh perusahaan telekomunikasi Israel dengan nomor kode area +972 Israel.

Salah satu aktivis lainnya yang diretas adalah Ubai Aboudi, seorang ekonom berusia 37 tahun dan warga negara AS. Dia menjalankan Pusat Penelitian dan Pengembangan Bisan yang beranggotakan tujuh orang di Ramallah, di Tepi Barat yang diduduki Israel, salah satu dari enam kelompok yang ditampar Gantz dengan sebutan teroris pada 22 Oktober.

Aboudi mengaku ia tak merasa aman dengan peretasan telepon ini, yang menurutnya sudah kelewat batas. Bahkan, sampai istrinya mengalami gangguan tidur karena ulah Israel tersebut.

Sedangkan dua warga Palestina lainnya yang diretas yang setuju disebutkan namanya adalah peneliti Ghassan Halaika dari kelompok hak asasi Al-Haq dan pengacara Salah Hammouri dari Addameer yang merupakan sebuah organisasi HAM.

Pada konferensi pers di Ramallah Senin 8 November 2021, perwakilan dari enam organisasi menyerukan masyarakat internasional untuk mengambil tindakan.

“Kami menyerukan PBB untuk meluncurkan penyelidikan dan mengungkap dalang di belakang penggunaan program ini di telepon aktivis HAM, sebuah langkah yang membahayakan hidup mereka,” kata Peneliti Hukum di Al-Haq, Tahseen Elayyan.