IFBC Banner

Hebat! Iran Berhasil Bikin Amerika Serikat dan Israel Pecah Kongsi

Selasa, 16 November 2021 – 19:33 WIB

Perdana Menteri Israel Naftali Bennett

Perdana Menteri Israel Naftali Bennett

JAKARTA, REQnews - Kedekatan yang begitu intim antara Amerika Serikat (AS) dan Israel kini mulai merenggang, karena masalah Iran.

Perdana Menteri Israel Naftali Bennett menegaskan, ia tidak akan mau menemui utusan khusus AS untuk Iran, Robert Malley sebagai bentuk protes keras.

Ya, Israel tak terima dengan kemungkinan kembalinya AS pada kesepakatan nuklir Iran. Bennet menganggap sudah tak terbuka pintu pembicaraan baru dengan Negeri Para Mullah.

Sehingga Bennett menolak menerima utusan khusus AS, yang kini tengah melakukan serangkaian kunjungan regional di sejumlah negara Arab, seperti Saudi, UEA dan Bahrain.

Harian Israel Yedioth Ahronoth mengatakan, Malley dijadwalkan bertemu dengan Menteri Pertahanan Israel Benny Gantz, Menteri Luar Negeri Yair Lapid dan Direktur Mossad David Barnea serta Penasihat Keamanan Nasional Eyal Haluta pada Senin 15 November.

Namun, Israel khawatir bahwa Iran bisa meyakinkan AS untuk menghapus semua sanksi ekonomi dan berhenti mengancam penghentian pengayaan uranium, termasuk program nuklir balistik serta kehadiran Iran dalam masalah Suriah.

Perjanjian nuklir ditandatangani pada 2015 oleh Iran, AS, China, Rusia, Prancis, Inggris, Jerman, dan Uni Eropa.

Berdasarkan kesepakatan itu, Teheran telah berkomitmen untuk membatasi aktivitas nuklirnya untuk kegiatan sipil dan sebagai imbalannya, kekuatan dunia setuju untuk mencabut sanksi ekonomi mereka terhadap Iran.

Namun, AS di bawah mantan presiden Donald Trump, secara sepihak menarik diri dari perjanjian tersebut pada 2018 dan menerapkan kembali sanksi terhadap Iran, mendorong Teheran untuk berhenti mematuhi kesepakatan nuklir.