Jerman akan Legalkan Ganja Untuk Hiburan, Mungkinkah Indonesia Ikutan?

Kamis, 25 November 2021 – 11:30 WIB

(Ganja: shutterstock)

(Ganja: shutterstock)

 

JAKARTA, REQnews - Jika Indonesia masih pro dan kontra soal legalisasi ganja, berbeda dengan di negara Jerman. Dalam kesepakatan pemerintahan baru di Jerman pada Rabu lalu, Partai Social Democrats (SPD), Green and libertarian Free Democrats (FDP) telah menyetujui aturan akan melegakan dan mengizinkan ganja untuk hiburan. 

Padahal, di kawasan Eropa sendiri menjadi wilayah yang banyak melarang ganja untuk diedarkan secara bebas. Biasanya hanya untuk pengobatan dan itu terbatas.


"Kami akan mengevaluasi undang-undang (gulma) setelah empat tahun untuk dampak sosial," bunyi pakta dari kesepakatan pemerintah dikutip dari Reuters, Kamis 25 November 2021.

Menurut laporan European Cannabis Report oleh firma riset Prohibition Partners, pasar Eropa diproyeksikan tumbuh menjadi 3,2 miliar euro pada 2025, naik dari 403 juta euro pada akhir 2021. Pertumbuhan seperti itu dapat mendorong perusahaan ganja besar AS dan Kanada, serta industri ganja di Jerman masih baru.


Dengan aturan baru ini Jerman bisa menjadi contoh di Eropa yang masih membatasi ganja. Melegalkan ganja, disebut akan mengurangi aktivitas pasar gelap.


"Jerman akan memiliki peran perintis. Penting untuk menjadi kisah sukses karena itu akan membuka jalan bagi negara lain untuk menerapkan undang-undang serupa," kata pendiri perusahaan ganja Jerman Cantourage, Florian Holzapfel

Selain itu, legalisasi ganja juga akan mengurangi polisi yang waktunya sering habis hanya untuk menangani soal ganja dan kemudian melegalkan ganja akan meningkatkan pajak.


Lalu, melegalkan ganja disebut akan menghemat biaya negara sekitar 4,7 miliar euro dan menciptakan 27.000 lapangan kerja baru.

Sementara itu Indonesia masih berada dalam situasi darurat narkoba. Meski Komisi Obat dan Narkotika Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNODC) resmi menghapuskan ganja dari kategori narkotika, sejumlah kalangan berpendapat Indonesia tidak boleh melegalkan ganja.

Pendapat lain, peneliti ganja, Prof Dr Musri Musman mengatakan dirinya menemukan banyak manfaat dari tanaman yang di Indonesia masuk dalam kategori terlarang ini.

"Mulai untuk kebutuhan medis, tekstil, hingga untuk bahan pembuatan kertas," kata Prof Musri saat diskusi yang mengangkat tema tentang 'potensi industri ganja Aceh sebagai strategi pengentasan kemiskinan di Kamp Biawak, Kamis 30 Januari 2021.

Anggota Komisi VI DPR RI Fraksi PKS dari Aceh, Rafli juga punya pandangan seirama. Menurutnya lewat perjanjian perdagangan bebas, ada produk unggulan dari Indonesia yang akan diekspor ke pasar internasional, termasuk ganja Aceh.

"Legalisasi ganja Aceh yang saya tawarkan merupakan mekanisme pemanfaatan ganja Aceh untuk bahan baku kebutuhan medis dan turunannya berkualitas ekspor ke seluruh dunia yang membutuhkan, dan akan diatur dalam regulasi dan dikawal oleh negara," ucapnya kepada wartawan, Jumat, 31 Januari 2020.