Lebih Setengah Penduduk AS tak Percaya dengan Kemampuan Militer Paman Sam

Selasa, 07 Desember 2021 – 10:03 WIB

Foto: Anadolu Agency

Foto: Anadolu Agency

Washington DC, REQNews.com -- Lebih setengah penduduk AS tidak percaya dengan kemampuan militer mereka, dan tren ini meningkat sejak Joe Biden menjadi presiden.

Data itu terungkap lewat survei pertahanan nasional Ronald Reagan Institute dan dirilis akhir pekan lalu. Survei itu menunjukan hanya 45 peren orang AS percaya dengan kemampuan militer Paman Sam.

Temuan ini menandai kali pertama kurang dari setengah responden survei menyatakan masih menaruh kepercayaan kuat pada militer AS.

Russia Today menulis kepercayaan publik anjlok 25 poin persentase, dari 70 persen dalam tiga tahun terakhir, dan sebelas persen dalam sembilan bulan kekuasaan Joe Biden. Angka yang diperlihatkan lembaga lain, yang juga melakukan survei serupa, lebih rendah lagi.

Survei November 2021 memperlihatkan hanya 19 persen publik AS memiliki kepercayaan pada lembaga kepresidenan. Angka ini turun 30 persen dibanding survei serupa Februari tahun yang sama.

Peringkat penegakan hukum juga turun dari 33 persen menjadi 50 persen dalam tiga tahun terakhir. Sedangkan kepercayaan terhadap media tinggal 10 persen. Tahun 2018, publik yang percaya media masih 16 persen.

Alasan paling umum atas ketidak-percayaan publik pada militerAS adalah 'kepemimpinan politik.' Menurut publik, kepercayaan diri yang kuat dipengaruhi rasa hormat yang tinggi terhadap angota militer berpangkat tinggi.

Hanya 42 persen orang AS sangat percaya diri pada kemampuan militer Paman Sam memenangkan perang di luar negeri. Sebanyak 40 persen publik percaya militer akan bertindak dengan 'cara profesional dan nonpolitis'.

Ketika ditanya negara mana yang memiliki miltier terbaik saat ini, 69 persen responden masih menyebut AS, 17 persen memilih Cina. Hampir 32 persen mengatakan AS menggunakan militer dalam banyak situasi ketika diplomasi akan lebih baik.

Tahun ini Pentagon mendapat kecaman karena dugaan menganut ideologi anti-rasisme dan memprioritaskan inisiatif keadilan sosial, seperti mengakhiri larangan pasukan transgender, bukan kesiapan perang.

Penarikan pasukan AS dari Afghanistan yang kacau balau, terutama ketika 13 orang tentara AS tewas dan ratusan warga AS dibiarkan terdampar, memicu lebih banyak kemarahan publik.

Survei Reagan menunjukan 62 persen orang AS yang disurvei tidak setuju dengan penanganan eksodus pasukan AS dari Afghanistan. Hampir setengahnya menyalahkan penilaian Presiden Joe Biden yang buruk, sedangkan 20 persen menyebutkan perencanaan militer yang kacau balau.

Jajak pendapat juga menemukan dukungan yang berkurang untuk kepemimpinan global aktif AS. Hanya 42 persen percaya AS harus lebih terlibat dan memimpin dalam urusan dunia, turun dari 51 persen pada Februari.

Lebih satu dari dari empat orang AS, atau 27 persen, menginginkan militer AS mengurangi kehadirannya di luar negeri dan hanya mengerahkan pasukan untuk menanggapi agresi.

Cina diidentifikasi sebagai ancaman asing terbesar bagi AS, yaitu 52 persen, atau naik 21 persen dibanding tiga tahun lalu. Lebih tujuh dari 10 oerang AS, atau 72 eprsen, yang disurvei mengatakan mereka percaya virus SARS-CoV-2 bocor dari laboratorium Cina dan Beijing berbohong berulang-ulang untuk mentutupinya.

Menariknya, kekhawatiran atas Rusia menurun tajam, dengan 14 persen. Tahun 2018, 30 persen orang AS masih melihat Rusia sebagai ancaman terbesar.