IFBC Banner

Ngeri, Teror Kepala Anjing untuk Habib Bahar, Pakar Psikologi Forensik: Ada Pesan Maut!

Sabtu, 01 Januari 2022 – 15:03 WIB

Habib Bahar bin Smith (Foto: Istimewa)

Habib Bahar bin Smith (Foto: Istimewa)

JAKARTA, REQnews - Pakar Psikologi Forensik Reza Indragiri Amriel memberikan analisis terkait dengan teror tiga kepala anjing di Pondok Pesantren Tajul Alawiyyin milik Habib Bahar bin Smith di Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Jumat 31 Desember 2021 dini hari.

IFBC Banner


Bahkan, sebelumnya Kuasa Hukum Bahar bin Smith yaitu Razman Arif Nasution juga mengaku diteror dikirimi paket berisi kepala kambing busuk ke tempat tinggalnya yang berada di Apartemen Mediterania Palace di Kemayoran, Jakarta Pusat.

Menanggapi hal itu, Reza menilai jika pengiriman kepala anjing dan kepala kambing busuk tersebut memiliki pesan maut. "Apa lagi tafsiran yang bisa dibangun, kecuali bahwa tindakan sedemikian rupa adalah pesan maut," kata Reza dalam keterangannya dikutip pada Sabtu 1 Januari 2022.

Menurutnya, penerima paket-paket itu dihadapkan pada risiko menjadi sasaran kekerasan yang bahkan bisa berujung pada kematian, jika bertindak-tanduk di luar keinginan si pengirimnya. "Pihak pengirim boleh jadi dapat dikenai sanksi pidana berdasarkan pasal 335 KUHP," lanjutnya.

Lebih lanjut, Reza menilai jika pengirim bungkusan berisi kepala binatang tersebut memendam amarah, sakit hati, kebencian, atau perasaan-perasaan negatif lainnya. "Pertanyaannya, mengapa suasana batin semacam itu diekspresikan dengan terlebih dahulu membunuh binatang lalu mengirimnya ke pihak penerima?" kata dia.

"Kaget, pasti. Sangat, bahkan. Tapi apakah kemudian si penerima merasa takut, belum tentu. Saya pribadi justru merasa pilu membayangkan binatang-binatang yang tak berdosa itu dimutilasi dengan begitu keji dan dijadikan sebagai simbol tentang kematian dalam keadaan hina-dina," ujarnya.

Kemudian, ia menyebut jika kelakuan biadab para pelaku sangat kontras dengan potret dedikasi sekian banyak orang, misalnya di situs kitabisa.com. Karena menurutnya dalam situs crowdfunding itu banyak masyarakat yang berbondong-bondong mencari dan memberikan donasi dalam penyelamatan biatang.

Ia mengatakan yang melatari kebaikan orang-orang itu adalah kepedulian sebagai sesama ciptaan Tuhan. "Menyelamatkan binatang-binatang yang sakit, cacat, dianiaya, ditelantarkan, dan berbagai kondisi buruk lainnya," ujar Reza.

"Sebagaimana yang juga saya rasakan ketika masuk ke gorong-gorong air kotor, guna menolong anak kucing rumahan yang terperosok di dalam sana," lanjutnya.

Dirinya pun berharap agar pihak kepolisian bisa terketuk hatinya untuk mengusut kasus-kasus pengiriman kepala binatang. "Namun bukan dalam konteks ancaman. Melainkan terkait adanya pihak-pihak yang sudah melakukan pembunuhan sadis terhadap binatang. Ketentuan hukum yang digunakan adalah pasal 302 KUHP," lanjutnya.

Selanjutnya, Reza pun menghimbau kepada siapa pun agar tidak lagi memanfaatkan tubuh binatang sebagai media simbolik untuk memuntahkan brutalitas.

 

"Bacalah Suplemen Belajar Mandiri Siswa Sekolah Dasar Kelas III SD buah pena Drs Sunarto, M.Pd., Dr. Sulartinah, M.Pd., dan Acih Suarsih, M.Pd. Dari situ kita akan amat sangat menyesalkan bahwa ketika murid-murid kelas 3 SD sudah dididik bahwa kasih sayang pada binatang merupakan pengamalan Pancasila sila pertama dan kedua, para pengirim bungkusan maut ke Razman dan Habib Bahar justru mempertontonkan tindak perangai yang tidak Pancasilais," ujarnya.