IFBC Banner

Ngotot Bela Ferdinand, Staf Ahli Kemenkominfo Henry Subiyakto: Sedikit-sedikit Melapor!

Sabtu, 08 Januari 2022 – 16:06 WIB

Pegiat Media Sosial, Ferdinand Hutahaean (Foto: Istimewa)

Pegiat Media Sosial, Ferdinand Hutahaean (Foto: Istimewa)

JAKARTA, REQnews - Staf Ahli Kemenkominfo Profesor Henry Subiyakto mengatakan bahwa cuitan Ferdinand Hutahean dalam akun Twitternya dianggap sebagai hal yang biasa.

IFBC Banner


"Orang berpendapat biasa-biasa saja," kata Henry dalam acara dua sisi di TV One pada Kamis 6 Januari 2022 lalu.

Menurutnya, pernyataan yang disampaikan oleh pegiat media sosial itu tak bisa dianggap sebagai kasus penodaan agama. "Tidak bisa seperti itu, tidak setuju dengan agama orang, punya pendapat yang tidak menyenangkan lalu dianggap sebagai penodaan agama," kata dia.

Henry mengatakan bahwa pendapat Ferdinand merupakan bagian dari kebebasan berpendapat. "Kebebasan berpendapat di Indonesia ini seringkali bermasalah karena sensitifitas masyarakat, sedikit-sedikit melapor," lanjutnya.

Ia mengatakan bahwa kasus tersebut tidak ada sangkut pautnya dengan pelanggaran hukum terkait penodaan agama.

Menurut Henry, dalam pasal 156 KUHP tentang penodaan agama menjelaskan bahwa penodaan agama itu adalah tindakan yang pada pokoknya bersifat permusuhan, penyalahgunaan dan atau penodaan salah satu agama yang dianut di Indonesia.

Yaitu dengan maksud agar orang tidak menganut agama apu pun juga yang bersendikan ketuhanan yang maha esa.

Sehingga menurutnya, dalam pernyataan Ferdinand tidak ada penodaan agama tertentu atau pernyataan yang memicu permusuhan.

Sebelumnya, Ferdinand Hutahaean menjadi perbincangan hangat terkait dengan cuitannya dan menimbulkan kemarahan masyarakat. Bahkan #TangkapFerdinand menjadi trending di media sosial Twitter.

"Kasihan sekali Allahmu ternyata lemah harus dibela. Kalau aku sih Allahku luar biasa maha segalanya," kata Ferdinand dalam cuitan di akun Twitternya @FerdinandHaean3 dikutip pada Kamis 6 Januari 2022.

Meskipun Ferdinand sudah menghapus cuitan tersebut, namun jejak digitalnya tak bisa dihilangkan. Ferdinand pun kemudian dilaporkan ke pihak kepolisian oleh seseorang berinisial HP terkait dengan dugaan tindak pidana menyebarkan informasi, pemberitaan bohong (hoaks) yang dapat menimbulkan keonaran di kalangan masyarakat.