IFBC Banner

Terbitkan Buku di Era Pandemi, REQbook Dapat Apresiasi dari Sastrawan dan Duta Baca Gol A Gong

Sabtu, 08 Januari 2022 – 22:02 WIB

Sastrawan dan Duta Baca Indonesia, Gol A Gong (Foto: Newszet)

Sastrawan dan Duta Baca Indonesia, Gol A Gong (Foto: Newszet)

JAKARTA, REQnews - Sastrawan Gol A Gong mengapresiasi REQbook sebagai penerbit yang berani menerbitkan buku ditengah pandemi Covid-19 dan kurangnya minat baca di Indonesia.

IFBC Banner


Duta Baca Indonesia periode 2021-2026 itu mengatakan bahwa saat ini faktanya Indonesia terjebak pada stigma bahwa Indonesia minat bacanya rendah pada The Program for International Student Assessment (PISA) tahun 2013.

Menurutnya, Negara Indonesia yang sangat luas dengan 17.000 pulaunya, menjadi sangat disparitas jika dibandingkan dengan negara lain seperti Singapura. Gol A Gong mengatakan bahwa dirinya menemukan dua jawaban terkait permasalahan rendahnya tingkat minat baca di Indonesia.

"Saya menemukan dua jawaban, ternyata akses buku susah dan distribusi buku yang tidak merata. Bayangkan di Papua, kemarin tol laut harga minyak sudah diatasi sama pemerintahan Jokowi," kata Gol A Gong dalam webinar Bedah Buku Kumpulan Cerpen 'Allahu Akbar Paling Kencang dan Kisah-Kisah Ketidakadilan' yang diselenggarakan sevara virtual pada Sabtu 8 Januari 2022.

Perlu diketahui, buku tersebut memuat 10 cerpen terkait dengan kisah penegakan hukum yang dikemas dalam cerita fiksi. Cerita tersebut berasal dari pengalaman dua penulis yaitu Agus Dwi Prasetyo dan Khafid Ulum dengan latar belakang wartawan yang sering melakukan peliputan kasus hukum.

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa dalam Undang-undang Nomor 3 Tahun 2017 tentang Sistem Perbukuan, ekosistem perbukuan harusnya bisa mengatasi persoalan disparitas mengenai akses buku dan distribusi. "Itu tidak direspon oleh kita dulu seperti akademisi, penulis, wartawan, anggota DPRD, termasuk juga eksekutif lain kepala dinas," kata Gol A Gong.

Ia mengatakan seharusnya dibuat Peraturan Daerah (Perda) sehingga ekosistem perbukuan di daerah-daerah itu bisa menjadi lebih sehat. "Penulis lokal di Papua bisa lebih hidup tidak perlu nyetak buku ke Jawa. Investor bisa datang dari Jakarta pasang aja tuh di Papua percetakan misalnya," kata dia.

Menurutnya jika bisa direalisasikan menjadi sebuah Perda, maka ekosistem perbukuan akan teratasi, di daerah menjadi lebih kondusif, wartawan-wartawan di Papua misalnya bisa lebih kreatif seperti menulis buku.

Gol A Gong pun menyebut berdasarkan temuan Unesco, seharusnya satu orang Indonesia bisa mengakses tiga buku. "Kalau angka produktif dari hampir 260 juta penduduk, 100 juta saja, berarti dibutuhkan 300 juta buku per tahun. Indonesia baru bisa memenuhi kebutuhan itu sekitar 47 juta buku setahun, berarti masih ada jarak," katanya.

Sementara menurut Perpusatakaan Nasional (Perpusnas) kenyataannya satu buku dikeroyok oleh 90 orang. "Nah pertanyaannya kekurangan penulis apa tidak ada anggaran? coba didata siapa si penulis di Indonesia dari tahun ke tahun," ujarnya.

Untuk itu, Gol A Gong pun mengapresiasi REQbook yang dengan berani menerbitkan dengan mencetak buku di tengah pandemi Covid-19 saat ini. "Makanya saya kaget sekali ketika REQbook ini menerbitkan buku di era pandemi. Tiba-tiba saya mendapatkan manuskrip, saat saya ada di daerah mana ya, saya sedang safari literasi bulan September," kata dia.

Saat pihak dari REQbook memberikan manuskrip tersebut, Gol A Gong pun heran. "Masih ada penerbit yang mau nerbitin buku. Nah artinya yang oleh perpusnas dikatakan bahwa satu buku dikeroyok oleh 90 orang Indonesia, nih ada satu buku di tahun ini 'dicetaknya berapa, bisa nggak terdistribusikan'," lanjutnya.

Menurutnya, jika Undang-undang Nomor 3 Tahun 2017 dibuatkan Perda, perpustakaan daerah bisa mengakses buku tersebut. "Dicetak di Provinsi Papua, Maluku, sehingga bisa didistribusikan. Karena review-review bukunya bisa dokumentasikan menjadi buku kumpulan cerita pendek yang baik," ujarnya.