Pembantaian Anjing di Mandalika, ADI Kasih Bukti Ini ke Polisi

Rabu, 12 Januari 2022 – 10:12 WIB

Ilustrasi anjing liar (Foto: Istimewa)

Ilustrasi anjing liar (Foto: Istimewa)

MANDALIKA, REQnews - Ketua Animal Defenders Indonesia (ADI) Doni Herdaru melaporkan kasus kematian anjing secara massal di Mandalika, Nusa Tenggara Barat (NTB) ke Polres Lombok Tengah ke pihak kepolisian.

"Kami telah mengadukan temuan kami berupa hasil forensik dan bukti-bukti, terkait dengan matinya beberapa anjing di sekitar Sirkuit Mandalika ke Polres Lombok Tengah," kata Doni kepada REQnews.com pada Selasa 11 Januari 2022.

Doni mengatakan bahwa pihaknya telah melaporkan beberapa pihak, salah satunya adalah Dinas Peternakan Provinsi NTB. "Kami telah memberikan informasi siapa yang menjadi terduga pelaku kejadian ini, dan akan diselidiki oleh kepolisian," kata dia.

Doni mengatakan bahwa pihaknya telah melaporkan temuan tersebut ke Polres Lombok Tengah dengan membawa sejumlah alat bukti-bukti. "Terlampir pada bukti-bukti awalan, print out tangkapan layar/screenshot laman website Dinas Peternakan Provinsi NTB," katanya.

Karena sebelumnya Doni menduga bahwa kematian anjing-anjing tersebut ada kaitannya dengan unggahan di webite Dinas Peternakan NTB yang berupaya untuk mensterilkan area Sirkuit Mandalika.

Terkait kasus tersebut, ia mengatakan bahwa pihak terlapor diduga telah melanggar Pasal 302 KUHP, Peraturan Pemerintah No. 95 Tahun 2012 Pasal 83, Pasal 84 ayat 1 point b, Pasal 86, Pasal 93, Pasal 94 dan Pasal 99.

Untuk sementara ini, Doni bersama dengan timnya masih berada di Lombok Tengah untuk perisapan pemeriksaan oleh kepolisian. "Kami masih akan berada di Lombok untuk bersiap pada pemeriksaan kepolisian terkait kasus kami ini," ujarnya.

Namun belum diketahui, kapan polisi akan melakukan panggilan pemeriksaan. "Penyidik menanyakan berapa lama saya akan berada di Lombok (terkait pemeriksaan). Saya menyatakan akan stay di Lombok hingga ada pemeriksaan," kata Doni.

Perlu diketahui, sebelumnya sekitar 7 ekor anjing dikabarkan mati karena diduga diracun, Doni bersama dengan pihak terkait kemudian melakukan visum terhadap bangkai anjing tersebut. Berdasarkan hasil visum uji Laboratorium Forensik Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga ditemukan bahwa salah satu penyebab kematian anjing tersebut karena luka bacok.

Doni menduga bahwa anjing-anjing tersebut sangat menderita dan tidak mati dengan cara yang mudah. "Perlu dicatat, anjing-anjing ini tidak mati dengan seketika. Ada darah yang terhirup masuk ke kerongkongan dan bagian tubuh lainnya," kata Doni pada Senin 10 Januari 2022.

Ia mengatakan bahwa untuk meningkatkan roda pariwisata, tak sepatutnya sampai menumpahkan darah hewan yang menjadi sahabat masyarakat di sana yang selama ini hidup berdampingan dan saling menghormati.

Sementara Pakar Psikologi Forensik Reza Indragiri Amriel mengatakan sejatinya dirinya setuju adanya pengendalian hewan liar saat ini sedang dipraktikkan di mana-mana. Namun, dalam pengendalian tersebut harus dilakukan dengan cara manusiawi.

"Tapi caranya tetap manusiawi, dengan menimbulkan efek sakit seminimal mungkin bagi hewan. Bukan dengan cara ugal-ugalan yang kuat mengesankan sebagai pembantaian, ketidakpedulian terhadap penderitaan hewan yang sesungguhnya juga ingin hidup," kata Reza kepada wartawan di Jakarta, Senin 10 Januari 2022.

Menurutnya, kelakuan biadab para pelaku sangat kontras dengan potret dedikasi sekian banyak orang misalnya lewat situs crowdfunding. Pasalnya melalui platform itu, banyak anggota masyarakat yang berbondong-bondong mencari dan memberikan donasi untuk menyelamatkan binatang-binatang yang sakit, cacat, dianiaya, ditelantarkan, dan berbagai kondisi buruk lainnya.

"Apa lagi yang melatari kebaikan orang-orang itu kalau bukan kepedulian sebagai sesama ciptaan Tuhan. Sebagaimana yang juga saya rasakan ketika masuk ke gorong-gorong air kotor untuk menolong anak kucing rumahan yang terperosok di dalam sana," katanya.

Ia pun berharap agar pihak kepolisian mengusut kasus-kasus tersebut, yaitu terkait adanya pihak-pihak yang sudah melakukan pembunuhan sadis terhadap binatang. "Ketentuan hukum yang digunakan adalah pasal 302 KUHP," ujarnya.