Usai Laporkan Gibran-Kaesang ke KPK, Ubedillah Badrun Ngaku Dapat Telpon Misterius Hingga Bully

Sabtu, 15 Januari 2022 – 17:56 WIB

Ubedillah Badrun (Foto: Hastina/REQnews)

Ubedillah Badrun (Foto: Hastina/REQnews)

JAKARTA, REQnews - Usai melaporkan Gibran dan Kaesang ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Ubedillah Badrun mengaku mendapatkan bully hingga telpon di malam hari. 

Meski demikian, pria yang lebih akrab disapa Ubed itu tak ingin mengklaim telpon misterius tersebut adalah bentuk teror. Walaupun dirinya tak pernah mendapatkan telpon pada malam hari.

"Sejauh ini memang ada telpon malam yang tidak saya terima, mudah-mudahan itu sih bukan dari satu bentuk teror. Meskipun saya tidak biasa di telpon malam-malam kan," kata Ubed kepada wartawan di Jakarta pada Sabtu 15 Januari 2022.

Selain itu, akademisi Universitas Negeri Jakarta (UNJ) itu mengaku mendapat kritik hingga bully di media sosial (medsos). Namun dirinya tak ambil pusing untuk meladeni bullyan tersebut, karena mereka mungkin tidak tahu isunya. 

"Kemudian yang kedua di medsos yang paling banyak sih, tapi saya kira bisa membedakan antara kritik yang fokus pada isu atau laporan yang saya sampaikan, dengan yang bersifat lain bully dan sebagainya. Saya kira tidak meladeni mereka, karena mengapa membully saya di media sosial karena tidak tau," kata dia. 

Sebelumnya, dua anak Presiden Joko Widodo (Jokowi) yaitu Gibran Rakabuming dan Kaesang Pangarep dilaporkan ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) atas dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU).

Mereka dilaporkan oleh aktivis 98 yang menjadi dosen di Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Ubedilah Badrun. Ia menyebut bahwa dugaan TPPU tersebut terkait dengan kasus pembakaran hutan.

 

"Laporan ini terkait dengan dugaan tindak pidana korupsi dan atau tindak pidana pencucian uang berkaitan dengan dugaan KKN relasi bisnis anak presiden dengan grup bisnis yang diduga terlibat pembakaran hutan," ujar Ubedilah di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta pada Senin 10 Januari 2022.

Laporan tersebut berawal pada tahun 2015 ketika perusahaan bernama PT SM menjadi tersangka pembakaran hutan dan sudah dituntut Kementerian Lingkungan Hidup (LHK) sebesar Rp7,9 triliun.

Terkait kasus tersebut, Mahkamah Agung mengabulkan tuntutan Rp7,8 miliar. "Itu terjadi pada Februari 2019, setelah anak presiden membuat perusahaan gabungan dengan anak petinggi perusahaan PT SM," katanya.

Ubedilah menyebut bahwa mustahil jika perusahaan baru mendapat suntikan dana penyertaan modal dari peursahaan ventura yang juga berjejaring dengan PT SM. Dirinya pun menduga terdapat dua kali kucuran dana dalam waktu yang dekat.

"Angkanya kurang lebih Rp 99,3 miliar dalam waktu yang dekat. Dan setelah itu kemudian anak presiden membeli saham di sebuah perusahaan yang angkanya juga cukup fantastis Rp 92 miliar,” lanjutnya.

Menurutnya, hal tersebut menjadi tanda tanya besar, apakah seorang anak muda yang baru mendirikan perusahaan dengan mudah mendapatkan penyertaan modal dengan angka yang cukup fantastis kalau dia bukan anak presiden.

Lebih lanjut, dalam laporan tersebut Ubedilah melampirkan sejumlah bukti seperti dokumen perusahaan dan bukti berupa pemberitaan penyertaan modal dari ventura. "Kemudian kita lihat di perusahaan-perusahaan yang dokumennya rapi itu, memang ada tokoh-tokoh yang tadi saya sebutkan," ujarnya.

Buntut dari pelaporan tersebut, Relawan Jokowi Mania (Joman) melaporkan Ubedillah Badrun ke Polda Metro Jaya atas dugaan fitnah kepada Gibran Rakabuming Raka dan Kaesang Pangarep.

"Hari ini tim hukum kami sudah ada menjelaskan beberapa pasal delik aduan terkait laporan palsu. Kita melaporkan Ubedillah Badrun di Pasal 317 KUHP," kata Ketua Umum Joman, Immanuel Ebenezer, di Polda Metro Jaya pada Jumat 14 Januari 2022.

Ia mengatakan bahwa pasal tersebut berbunyi, 'barang siapa dengan sengaja mengajukan pengaduan atau pemberitahuan palsu kepada penguasa, baik secara tertulis maupun untuk dituliskan, tentang seseorang sehingga kehormatan atau nama baiknya terserang diancam karena melakukan pengaduan fitnah dengan pidana paling lama 4 tahun.'

Laporan yang terdaftar di Polda Metro Jaya itu teregister dengan nomor LP/B/239/I/2022/SPKT/POLDA METRO JAYA, 14 Januari 2022. Pelaporan tersebut dilakukan setelah sebelumnya Ubedillah Badrun melaporkan Gibran dan Kaesang ke KPK.

Noel menilai jika laporan tersebut hanya hoaks semata. "Karena basis laporannya berbasis kepalsuan atau hoaks. Jadi ini tidak mendidik, apalagi beliau itu kan seorang dosen intelektual, aktivis, seharusnya lebih bisa memberikan pendidikan politik kepada masyarakat," kata dia.

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa sejumlah bukti telah diserahkan pelapor kepada penyidik. "Barang buktinya rekaman video kemudian durasi saat dia sampaikan dan itu jadi bukti-bukti kami sampaikan ke penyidik," lanjutnya.

Menurut Noel, pihaknya mungkin akan melaporkan pihak tersebut dengan pasal yang lebih berat. Namun, ada kemungkinan juga pihaknya akan mencabut laporan jika Ubedillah Badrun melakukan permintaan maaf secara terbuka kepada publik.

"Kami mau laporkan terlapor dengan pasal yang lebih berat. Tapi pertimbangannya hari ini kita melihat memberikan kesempatan kepada Ubedillah Badrun untuk meminta maaf kepada publik karena ini berkaitan dengan kehormatan seseorang. Karena basis laporannya berbasis kepalsuan atau hoaks, jadi ini tidak mendidik," ujarnya.