IFBC Banner

Intelijen Amerika Sebut Militer Rusia Bakal Masuki Ukraina Bulan Depan

Sabtu, 15 Januari 2022 – 23:05 WIB

Peta Ukraina dan Rusia (Foto:Istimewa)

Peta Ukraina dan Rusia (Foto:Istimewa)

WASHINGTON, REQNews – Badan intelijen Amerika memperingatkan Ukraina atas serangan siber dan kampanye negatif yang dilakukan Rusia di media sosial.

Mereka menyebut hal ini bagian dari upaya Rusia untuk menciptakan situasi tidak kondusif di Ukraina.

Upaya penciptaan opini di media massa sebagai bagian dari rencana operasi militer Rusia atas Ukraina yang diprediksi akan dilakukan menjelang Februari nanti

Hal ini menyusul adanya serangan siber pada Jumat 14 Januari 2022 atas situs di bawah naungan pemerintah Ukraina.

Serangan dunia maya itu melakukan deface atau perubahan wajah web pemerintah dengan mencantumkan ancaman bahwa situasi akan memburuk di Ukraina.

Serangan itu terjadi hanya beberapa jam setelah pembicaraan keamanan selesai, tanpa ada terobosan antara Moskow dan Barat terkait kawasan Ukraina dan Krimea.

Dinas Keamanan Ukraina mengatakan hasil awal penyelidikan mengindikasikan keterlibatan “kelompok peretas yang terkait dengan dinas intelijen Rusia”.

Dikatakan sebagian besar situs web telah kembali beroperasi, dan konten itu tidak diubah dan data pribadi tidak bocor.

Sekretaris pers Gedung Putih Jen Psaki mengatakan intelijen AS juga menuduh Rusia meletakkan dasar untuk invasi dengan merencanakan insiden bendera palsu, dan melalui kampanye disinformasi media sosial yang membingkai Ukraina sebagai agresor.

“Kami prihatin bahwa pemerintah Rusia sedang mempersiapkan invasi di Ukraina yang dapat mengakibatkan pelanggaran hak asasi manusia yang meluas dan kejahatan perang jika diplomasi gagal memenuhi tujuan mereka,” kata Psaki.

Seorang pejabat AS, berbicara swcara anonim, mengatakan banyak operasi intelijen berjalan di Ukraina, mereka menyadap dan mendeteksi pergerakan pejabat tertentu.

Amerika memperkirakan, invasi militer Rusia dapat dimulai antara pertengahan Januari dan pertengahan Februari.

Namun, Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov menolak laporan tersebut karena didasarkan pada informasi yang “tidak berdasar”.