IFBC Banner

Di Balik Jeruji Ferdinand Hutahaean Tuliskan Surat Terbuka Permohonan Maaf, Ini Isi Suratnya

Selasa, 18 Januari 2022 – 11:04 WIB

Ferdinand Hutahean (Foto:Instagram)

Ferdinand Hutahean (Foto:Instagram)

JAKARTA, REQNews - Mendekam di Rutan Bareskrim Polri, Ferdinand Hutahaean, tersangka kasus dugaan ujaran kebencian bernuansa SARA menuliskan surat permohonan maaf.

"Beliau menitipkan surat untuk kami sampaikan kepada kawan-kawan media yang isinya adalah permohonan maaf dari hati yang paling dalam," kata pengacara Ferdinand, Rony Hutahaean kepada wartawan, Jakarta, Senin 17 Januari 2022.

Rony Hutahaean mengatakan surat tersebut ditujukan kepada masyarakat warga negara Indonesia, tokoh agama, ulama, tokoh politik dan seluruh masyarakat.

Adapun isi lengkap tulisan tangan Ferdinand Hutahaean yakni,

Kepada yth.

Seluruh masyarakat warga negara Indonesia, para pemuka agama, tokoh masyarakat, pemuda, dan segenap warga yang saya cintai di manapun berada

Bismillahirrahmanirrahim Assalamualaikum wr wb

Perkenankan lah saya Ferdinand Hutahaean, pertama sekali dengan segala kerendahan hati memohon maaf yang sebesar-besarnya atas kekhilafan saya dalam berkata secara khusus dalam cuitan saya yang telah menyinggung perasaan sahabat, saudara, dan siapapun yang merasa tersinggung dan tersakiti atas tutur kata saya dalam cuitan saya.

Saya dengan rendah hati memohon dimaafkan karena saya tidak ada niat untuk menyinggung atau menyerang pihak mana pun. Sebagai seorang muslim saya justru ingin menegaskan bahwa tiada lain tempat berlindung kecuali Allah SWT.

Atas kekhilafan saya, mohon dimaafkan dan bimbing saya agar ke depan semakin menjadi seorang yang lebih baik beragama dan bertutur kata.

Sekali lagi mohon saya dimaafkan dan mohon doakan saya agar mampu menjalani proses hukum ini dengan baik.

Demikian, atas kemurahan hati sahabat, saudara, pemuka agama, tokoh masyarakat, pemuda, dan semua pihak saya ucapkan Terima kasih.

Wassalamualaikum wr wb

Ferdinand Hutahaean'.

Dalam kasus yang menjeratnya ini, Ferdinand dijerat dengan Pasal 14 ayat (1) dan (2) KUHP dan Pasal 45 ayat (2) jo Pasal 28 ayat (2) Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).