IFBC Banner

Rekam Jejak Hakim Itong Isnaeni Hidayat Terungkap! Ternyata Pernah Disanksi karena Langgar Etik

Kamis, 20 Januari 2022 – 15:30 WIB

 Itong Isnaeni Hidayat (Foto: Doc PN Surabaya)

Itong Isnaeni Hidayat (Foto: Doc PN Surabaya)

JAKARTA, REQnews - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) baru saja melakukan operasi tangkap tangan (OTT) Kamis 20 Januari 2022. Dalam OTT itu seorang Hakim Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Itong Isnaeni Hidayat ikut terjaring.

"Dalam rangkaian tangkap tangan tersebut, sejauh ini KPK mengamankan 3 orang. Di antaranya hakim, panitera, dan pengacara," ucap juru bicara KPK, Ali Fikri, pada Kamis 20 Januari 2022.

Panitera Pengganti (PP) yang ikut diamankan yakni M Hamdan. Keduanya diduga tengah melakukan tindak pidana korupsi pemberian dan penerimaan uang terkait sebuah perkara di PN Surabaya.

Rekam jejak Hakim Itong Isnaeni Hidayat pun jadi sorotan. Dilansir dari website PN Surabaya, Itong merupakan hakim karir dengan pangkat terakhir Pembina Utama Muda (IV/c).

Itong ternyata pernah mendapat sanksi dari Mahkamah Agung karena terbukti melanggar kode etik atas putusan bebas mantan Bupati Lampung Timur, Satono dan mantan Bupati Lampung Tengah, Andy Achmad Sampurna Jaya yang pernah terlibat kasus korupsi. 

Satono terbukti korupsi Rp 119 miliar dan Andy Achmad Sampurna Jaya korupsi Rp 28 miliar.

Saat itu Itong menjadi hakim Pengadilan Negeri (PN) Tanjungkarang, Lampung. 

Atas putusan bebas Satono dan Andy, Itong sempat diperiksa Mahkamah Agung (MA). Itong terbukti melanggar kode etik dan diskorsing ke Pengadilan Tinggi (PT) Bengkulu. Ia melanggar Keputusan Ketua MA No 215/KMA/SK/XII/2007 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pedoman Perilaku Hakim.

Adapun pasal yang dilanggar yakni pasal 4 ayat 13 yang berbunyi:

Hakim berkewajiban mengetahui dan mendalami serta melaksanakan tugas pokok sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, khususnya hukum acara, agar dapat menerapkan hukum secara benar dan dapat memenuhi rasa keadilan bagi setiap pencari keadilan.

Kejadian itu terjadi tahun 2011 saat Itong menjadi hakim Pengadilan Negeri (PN) Tanjungkarang, Lampung. Namun, di tingkat kasasi, Satono justru divonis 15 tahun penjara dan Andy divonis 12 tahun penjara.

Adapun dua hakim lain yang mengadili Santono dan Andy dinyatakan MA tidak bersalah secara etika.