WNA Penyelundup Bayi Orang Utan Divonis 1 Tahun Penjara

Kamis, 11 Juli 2019 – 19:00 WIB

Andrei Zhetkov  dan Orang Utan (Foto: Istimewa)

Andrei Zhetkov dan Orang Utan (Foto: Istimewa)

JAKARTA, REQnews- Tersangka penyeludupan orang utan Andrei Zhetkov (Pongo pygmaeus) dari Bali divonis 1 tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Denpasar Bali.

Andrei, pria asal Rusia terbukti bersalah melakukan pelanggaran dengan menyimpan atau memiliki satwa yang dilindungi dalam kondisi hidup.

"Mengadili menyatakan terdakwa Andrei Zhetkov terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah telah melakuan tindak pidana mengangkut satwa liar. Menjatuhkan hukuman penjara selama 1 tahun dikurangi selama terdakwa dalam tahanan dan denda Rp 10 juta apabila tidak dibayar diganti dengan pidana 2 bulan kurungan," kata Ketua Majelis Hakim Bambang Ekaputra di PN Denpasar, Jalan PB Sudirman, Denpasar, Bali, Kamis 11 Juli 2019.

Majelis hakim menyatakan Andrei terbukti bersalah mengangkut satwa liar pada Jumat 22 Maret 2019 di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Tuban, Bali. Saat diamankan terdakwa terbukti membawa orang utan dalam keadaan tidak sadar.

Dari fakta di persidangan juga diketahui jika Andrei mendapatkan orang utan tersebut dari temannya bernama Igor untuk dibawa ke Rusia. Andrei juga tidak memiliki izin untuk mengangkut orang utan tersebut.

"Menimbang bahwa terdakwa tidak punya izin dari pejabat yang berwenang membawa binatang yang dilindungi keluar dari Indonesia majelis hakim berpendapat bahwa unsur menyimpan, mengangkut, serta memiliki satwa dalam keadaan hidup telah terpenuhi," urainya.

Hal yang memberatkan yaitu perbuatan terdakwa bertentangan dengan undang-undang dan upaya pemerintah melindungi satwa di Indonesia. Sementara hal yang meringankan terdakwa menyesali perbuatannya, dan bersikap sopan di persidangan. Majelis hakim menyatakan barang bukti berupa satwa diserahkan ke BKSDA.

"Barang bukti berupa orang utan jantan laki-laki berusia dua tahun, 2 tokek, 4 bunglon masing-masing diserahkan ke BKSDA untuk dirawat dan dikembalikan sebagaimana mestinya," ucap hakim Gde.

Vonis ini jauh lebih berat dari tuntutan jaksa yang menuntut Andrei 6 bulan penjara. Atas perbuatannya, Andrei diyakini melanggar pasal 40 ayat (2) Jo pasal 21 ayat (2) huruf a UU Nomor 5 tahun 1990 tentang KSDAH dan Ekosistem.