Usai Gelar Perkara, Polisi Naikkan Kasus Edy Mulyadi ke Penyidikan

Rabu, 26 Januari 2022 – 14:32 WIB

Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Polri, Brigjen Ahmad Ramadhan di Gedung Humas Polri (Foto: Hastina/REQnews)

Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Polri, Brigjen Ahmad Ramadhan di Gedung Humas Polri (Foto: Hastina/REQnews)

JAKARTA, REQnews - Bareskrim Polri meningkatkan kasus dugaan ujaran kebencian Edy Mulyadi (EM) yang menyebut Kalimantan sebagai tempat buang jin, dari penyelidikan ke penyidikan.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Ahmad Ramadhan mengatakan sebelumnya pihak penyidik telah melakukan pemeriksaan terhadap 15 orang saksi dan 5 saksi ahli.

"Hari Rabu tanggal 26 Januari 2002 telah melakukan pemeriksaan terhadap 15 orang saksi dan 5 saksi ahli serta penarikan laporan dari Polda Kaltim dan Polda Sulawesi Utara, dilaksanakan gelar perkara oleh tim penyidik," kata Ahmad kepada wartawan di Gedung Humas Polri pada Rabu 26 Januari 2022.

Setelah melakukan gelar perkara, Ahmad menyebut bahwa penyidik kemudian menyimpulkan menaikan status dari penyelidikan menjadi penyidikan. Pihaknya juga telah mengirimkan surat pemberitahuan dimulainya penyidikan (SPDP) ke Kejaksaan Agung.

Selanjutnya, polisi juga telah mengirimkan surat pemanggilan pemeriksaan kepada Edy Mulyadi sebagai saksi dan beberapa saksi lainnya untuk hadir pada Jumat 28 Januari 2022.

Selain itu, Bareskrim Polri juga telah mengirimkan dua tim ke Polda Kalimantan Timur dan Polda Jawa Tengah untuk melakukan pemeriksaan saksi-saksi di wilayah tersebut. "Termasuk melakukan pemeriksaan terhadap saksi-saksi yang berada di Jakarta," lanjutnya.

Kemudian, Ahmad mengatakan bahwa penyidik juga akan melakukan pemeriksaan terhadap barang bukti yang telah disita ke laboratorium forensik.

Sebelumnya, Edy Mulyadi menjadi viral terkait dengan pernyataannya yang menyebut Kalimantan, lokasi ibu kota negara yang baru, sebagai tempat pembuangan jin dan anaknya.

Dalam video yang beredar, Edy mengatakan tak sepakat dengan adanya rencana perpindahan Ibu Kota Negara (IKN) ke Kalimantan Timur. Karena baginya, wilayah tersebut adalah tempat yang tidak pantas.

"Bisa memahami enggak, ini ada sebuah tempat elite punya sendiri yang harganya mahal. Punya gedung sendiri lalu dijual pindah ke tempat jin buang anak," kata Edy, seperti dikutip Minggu 23 Januari 2022.

Edy bahkan melontarkan hinaan tak pantas, dengan mengatakan pasar di Kalimantan hanya berisi kuntilanak dan genderuwo. "Pasarnya siapa? Kalau pasarnya kuntilanak, genderuwo ngapain ngebangun disana," ujarnya.