Dugaan TPPU Gibran-Kaesang, Ubedillah Ngaku Dicecar Banyak Pertanyaan oleh Penyidik KPK

Rabu, 26 Januari 2022 – 15:35 WIB

Ubedillah Badrun (Foto: Hastina/REQnews)

Ubedillah Badrun (Foto: Hastina/REQnews)

JAKARTA, REQnews - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memanggil Ubedillah Badrun untuk meminta klarifikasi terkait dengan laporan yang menyeret nama kedua anak Presiden Joko Widodo (Jokowi) yaitu Gibran Rakabuming dan Kaesang Pangarep atas dugaan kasus korupsi dan pencucian uang.

“Tadi saya diundang untuk klarifikasi ya, hampir dua jam. Saya kira kami percaya kepada KPK untuk menjalankan amanah negara ini,” kata pria yang akrab disapa Ubed itu di Gedung Merah Putih KPK Jakarta, Rabu 26 Januari 2022.

Selama dua jam, Ubed mengatakan telah diberondong banyak pernyataan yang berkaitan dengan pelaporannya. “Kontennya, saya kira tidak berhak untuk menjelaskan ke publik, karena masih ada proses yang mungkin akan terus dilakukan. Banyak pertanyaannya tadi, karena harus detail dari awal sampai akhir,” kata dia.

Ia pun tak ingin menjelaskan lebih rinci, agar tidak menimbulkan inteprestasi lain di luar laporannya. “Selanjutnya yang biar KPK yang menjalankannya sesuai undang-undang yang berlaku,” lanjutnya.

Sebelumnya, Ubedillah melaporkan Gibran dan Kaesang ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) atas dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU) terkait dengan kasus pembakaran hutan.

"Laporan ini terkait dengan dugaan tindak pidana korupsi dan atau tindak pidana pencucian uang berkaitan dengan dugaan KKN relasi bisnis anak presiden dengan grup bisnis yang diduga terlibat pembakaran hutan," ujar Ubedilah di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta pada Senin 10 Januari 2022.

Laporan tersebut berawal pada tahun 2015 ketika perusahaan bernama PT SM menjadi tersangka pembakaran hutan dan sudah dituntut Kementerian Lingkungan Hidup (LHK) sebesar Rp7,9 triliun.

Terkait kasus tersebut, Mahkamah Agung mengabulkan tuntutan Rp7,8 miliar. "Itu terjadi pada Februari 2019, setelah anak presiden membuat perusahaan gabungan dengan anak petinggi perusahaan PT SM," katanya.

Ubedilah menyebut bahwa mustahil jika perusahaan baru mendapat suntikan dana penyertaan modal dari peursahaan ventura yang juga berjejaring dengan PT SM. Dirinya pun menduga terdapat dua kali kucuran dana dalam waktu yang dekat.

"Angkanya kurang lebih Rp 99,3 miliar dalam waktu yang dekat. Dan setelah itu kemudian anak presiden membeli saham di sebuah perusahaan yang angkanya juga cukup fantastis Rp 92 miliar,” lanjutnya.

Menurutnya, hal tersebut menjadi tanda tanya besar, apakah seorang anak muda yang baru mendirikan perusahaan dengan mudah mendapatkan penyertaan modal dengan angka yang cukup fantastis kalau dia bukan anak presiden.

Lebih lanjut, dalam laporan tersebut Ubedilah melampirkan sejumlah bukti seperti dokumen perusahaan dan bukti berupa pemberitaan penyertaan modal dari ventura. "Kemudian kita lihat di perusahaan-perusahaan yang dokumennya rapi itu, memang ada tokoh-tokoh yang tadi saya sebutkan," ujarnya.