IFBC Banner

Ini Penjelasan Kasad Soal Penahanan Brigjen TNI Junior Tumilaar

Selasa, 22 Februari 2022 – 13:36 WIB

Kasad Jenderal TNI Dudung Abdurachman (Foto:Instagram)

Kasad Jenderal TNI Dudung Abdurachman (Foto:Instagram)

JAKARTA, REQNews - Brigjen TNI Junior Tumilaar ditahan usai membuat surat terbukanya kepada Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo yang berisi persoalan pemanggilan Bintara Pembina Desa (Babinsa) oleh Polresta Manado karena membela seorang rakyat miskin bernama Ari Tahiru yang sedang bersengketa tanah dengan sebuah perusahaan properti.

Mengenai penahanan ini Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Jenderal TNI Dudung Abdurachman mengatakan alasan penahanan Staf Khusus Kasad Brigjen TNI Junior Tumilaar di Rumah Tahanan Militer (RTM) Cimanggis, Depok, Jawa Barat, karena bertugas di luar kewenangannya.

Dudung mengatakan, setiap prajurit itu kalau melaksanakan tugas pasti atas perintah atasan dan ada surat perintahnya.

"Nah, dia (Tumilaar) tanpa perintah dan mengatasnamakan Staf Khusus Kasad untuk membela rakyat. Itu bukan kapasitasnya dia sebagai satuan kewilayahan," jelas Dudung, Selasa 22 Februari 2022.

Menurut dia, tindakan yang dilakukan Brigjen Junior Tumilaar seharusnya tugas Babinsa hingga Kodim karena dua unsur ini yang berwenenang melakukan tugas satuan kewilayahan.

"Seharusnya Babinsa sampai Kodim yang melakukan kegiatan tersebut dan tentunya koordinasi dengan Pemda dan aparat keamanan setempat. Dia melakukan kegiatan di luar tugas pokoknya," katanya.

Tak hanya itu, jabatan Junior Tumilaar sebagai Staf Khusus Kasad seharusnya mengajukan izin terhadapnya ketika akan keluar.

"Staf Khusus Kasad apabila keluar harus seizin Kasad, tapi dia bertindak mengatasnamakan membela rakyat padahal bukan kewenangan yang bersangkutan," tegasnya.

Diketahui, Brigjen Tumilaar membela warga Bojongkoneng, Babakan Medang, Kabupaten Bogor, yang terlibat permasalahan lahan dengan PT Sentul City.

Sebelumnya, surat Brigjen TNI Junior Tumilaar beredar di media sosial pada Senin 21 Februari 2022.

Surat tersebut perihal permohonan Tumilaar untuk dievakuasi ke RSPAD dari Rumah Tahanan Militer (RTM) Cimanggis, Depok, Jawa Barat, karena sakit asam lambung atau GERD yang dideritanya. Surat tersebut ditujukan kepada KSAD, Ka Otmilti II, Danpuspom AD, dan Ditkum AD.

Dalam surat itu, Tumilaar memohon diampuni karena bersalah membela rakyat warga Bojong Koneng, Babakan Madang, Kabupaten Bogor, yang menjadi korban penggusuran lahan dan bangunan PT Sentul City.

"Saya juga mohon pengampunan karena tanggal 3 April 2022 saya berumur 58 tahun, jadi memasuki usia pensiun," kata Tumilaar dalam suratnya.