Ini Alasan Habil Marati Ajukan Penangguhan Penahanan

Senin, 15 Juli 2019 – 17:30 WIB

Habil Marati (Foto: Istimewa)

Habil Marati (Foto: Istimewa)

JAKARTA, REQnews - Masih ingat dengan Habil Marati? Yaps, tersangka kasus dugaan rencana pembunuhan empat tokoh nasional tersebut dikabarkan sudah mengajukan penahanan ke penyidik Polda Metro Jaya.

Dalam surat permohonan penangguhan penahanannya, pria yang diduga sebagai penyandang dana kasus tersebut beralasan punya gangguan kesehatannya. Permohonan itu dikabarkan sudah masuk sejak Rabu 10 Juli pekan lalu.

"Permohonan penangguhan penahanan sudah masuk sejak pekan lalu hari Rabu tanggal 10 Juli 2019, sekarang tinggal diproses, dipelajari oleh penyidik," kata kuasa hukum Marati, Yusril Ihza Mahendra di Jakarta, Senin 15 Juli 2019.

Alasan untuk dimohonkan penangguhan penahanan, kata Yusril, karena alasan kesehatan seperti yang diungkapkan oleh yang bersangkutan. "Alasannya kesehatan, Habil merasa kurang sehat. Dia nampak pucat ketika bertemu saya," kata Yusril lagi.

Meski alasan itu tidak terdapat dalam KUHAP, Yusril berpendapat bahwa yang mengamanatkan penangguhan penahanan tidak bisa dilakukan atas dasar tiga hal. Yaitu khawatir tersangka akan melarikan diri, khawatir tersangka akan menghilangkan barang bukti, dan khawatir kalau tersangka akan mengulangi lagi perbuatannya.

"Saya kira ketiga hal itu tidak ada pada Habil. Maka jika penyidik sependapat, Habil dapat dipertimbangkan penangguhan penahanannya atau dialihkan status penahanannya dari tahanan di dalam Rutan ke tahanan kota misalnya," kata Yusril.

Sebagai penjamin, Yusril mengatakan untuk sementara pihak keluarga Marati menjadi penjamin dalam permohonan itu. Marati saat ini telah ditetapkan sebagai tersangka oleh polisi atas kasus dugaan rencana pembunuhan empat tokoh nasional. Ia disebut memberikan uang sebesar 15.000 dolar Singapura untuk uang operasional kepada mantan Kepala Staf Kostrad, Mayor Jenderal TNI (Purnawirawan) Kivlan Zen.

Uang itu disebut-sebut diberikan kepada Zen untuk membeli senjata api ilegal, yang dinyatakan lalu mencari eksekutor dan memberi target pembunuhan empat tokoh nasional, yaitu Wiranto, Budi Gunawan, Luhut Pandjaitan, serta Yunarto Wijaya (lembaga survei Charta Politika).