IFBC Banner

Anak Buah Kolonel Priyanto Berlinang Air Mata Saat Bersaksi di Sidang Kasus Handi-Salsabila

Selasa, 15 Maret 2022 – 23:00 WIB

Ilustrasi Pelaku Kejahatan (Foto: Istimewa)

Ilustrasi Pelaku Kejahatan (Foto: Istimewa)

JAKARTA, REQnews - Sidang kasus penabrakan sejoli Handi Saputra (18) dan Salsabila (14) dengan agenda pemeriksaan saksi, Selasa 15 Maret 2022 diwarnai isak tangis Kopda Andreas Dwi Atmoko. Andreas bersaksi untuk terdakwa Kolonel Priyanto.

IFBC Banner


Anak buah Kolonel Inf Priyanto itu mengaku sebetulnya memiliki niat ingin memberikan pertolongan pada Handi dan Salsa usai peristiwa kecelakaan di Nagreg, Jawa Barat (Jabar).

Hanya saja kata Andreas, Kolonel Priyanto tak mengindahkan permohonannya. Malahan menyuruhnya diam dan ikut perintah Kolonel Priyanto.

"Saya melihat puskesmas. Sebelum Puskesmas Limbangan kasih saran ke beliau, 'mohon izin ada puskesmas, harus bawa ke puskesmas'. Tapi beliau tidak mendengarkan, 'Lanjut'," kata Kopda Andreas menirukan perintah Kolonel Priyanto dalam sidang di Pengadilan Militer Tinggi II Jakarta Timur, Selasa 15 Maret 2022. 

Dia pun melihat Kolonel Priyanto membuka aplikasi Google Map untuk mencari sungai agar bisa membuang jasad Handi dan Salsa. Andreas pun mengaku mobil yang mereka tumpangi sempat tersesat ke kampung-kampung warga, padahal mereka mencari tempat yang sepi.

Sampai pada akhirnya Kolonel Priyanto menemukan lokasi jembatan yang dirasanya pas untuk membuang Handi dan Salsa. Jembatan itu berada di atas aliran sungai.

"Turun dari mobil, hanya lampu kecil yang menyala. Diperintahkan terdakwa turun dari mobil. Saksi tiga masih dalam kondisi di mobil, jadi saksi dua dan terdakwa mengeluarkan perempuan. Dibuang dari atas jembatan," katanya.

Andreas menyatakan Salsa memang sudah tiada saat tubuhnya dibuang.

"Yang perempuan setahu saya sudah (meninggal dunia). Badannya sudah kaku. Setahu saya sudah kaku," ujar Andreas.

Andreas sempat membayangkan anak dan istrinya. Andreas pun sempat khawatir akan nasib keluarganya jika perbuatan mereka terungkap. Kolonel Priyanto berupaya meyakinkan Andreas dengan mengaku pernah melakukan pemboman dan tak ketahuan sepanjang karier kedinasannya.

"Karena saya punya anak dan istri, kalau ada apa-apa nanti gimana keluarga saya. Nggak berani, syok. Saya sudah memohon. 'Kamu nggak usah cengeng saya sudah pernah mengebom tidak ketahuan'. 'Tentara nggak usah cengeng'. Mobil terus dibawa oleh terdakwa, tidak berhenti," kata Andreas menirukan kata-kata Kolonel Priyanto.

 

Dalam kasus ini, dirinya bersama Koptu Achmad Sholeh didakwa terlibat dalam pembunuhan Handi dan Salsa, yang didalangi Kolonel Priyanto.