IFBC Banner

Unggah Video Terbaru, Pendeta Saifudin Hina Nabi Muhammad

Sabtu, 19 Maret 2022 – 13:15 WIB

Pendeta Saifudin Ibrahim (Foto:Istimewa)

Pendeta Saifudin Ibrahim (Foto:Istimewa)

JAKARTA, REQNews — Dalam unggahan video terbarunya Pendeta Saifudin Ibrahim yang meminta 300 ayat Al-Quran direvisi atau dihapus kini malah menghina Nabi Muhammad.

Dalam akun Youtube Saifudin Ibrahim, pendeta Saifudin membuat unggahan video baru pada Sabtu 19 Maret 2022 sekitar pukul 07.30 WIB ini, diberi judul Ade Armando, Tidak Punya Logika.

Pendeta yang sekarang dikabarkan berada di Amerika ini menyebut Alquran sebagai kitab suci buatan Arab, yang tidak cocok untuk Indonesia, tidak cocok untuk Amerika.

Alquran disebutnya memaksakan kehendak orang untuk masuk agama tersebut.

“Memaksakan kehendak, memaksakan untuk orang lain untuk ikut agama itu,” kata pendeta Saifudin.

Dalam video unggahannya ini bahkan, pendeta Saifudin menghina Rasulullah SAW. “Islam itu begitu munculnya Nabi Muhammad, pergi ke Madinah, lima suku dihabisi oleh Muhammad. Habis sampai sekarang tidak ada satupun suku Yahudi di Madinah. Dihabisi oleh Muhammad, 5 ribu orang dipotong lehernya. Sampai Nabi Muhammad itu miring-miring kepalanya,” kata pendeta Murtadin ini.

Sebelumnya pendeta Saifudin Ibrahim viral karena meminta 300 ayat Alquran di revuisi atau dihapus kepada menteri agama Yaqut Cholil Qoumas.

Video pendeta viral itu diunggah oleh channel YouTube NU Garis Lurus, pada Minggu 13 Maret 2022.

Dalam video tersebut terlihat seorang pendeta sedang menyampaikan permohonannya kepada Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas.

"Saya sudah berulang kali mengatakan kepada menteri agama, dan ini adalah menteri agama yang saya kira toleransi dan damai tinggi terhadap minoritas,” ujar pendeta dalam video tersebut.

Pendeta ini juga berharap Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas jangan takut kepada pihak-pihak yang menentangnya.

"Bahkan kalau perlu Pak, 300 ayat yang menjadikan hidup intoleran, pemicu hidup radikal, itu direvisi atau dihapuskan dari Alquran Indonesia, ini sangat berbahaya sekali!,” ujar sang pendeta melanjutkan.

Dia juga mengatakan bahwa pasantren sebagai lembaga yang melahirkan kaum radikal. Lalu ia membandingkan dengan kondisi di cina yang merevisi ayat-ayat Alquran sehingga tidak ada teroris di sana.