IFBC Banner

Jelang Pergantian Rezim di Seoul, Dua Pemimpin Korea Saling Kirim 'Surat Cinta'

Sabtu, 23 April 2022 – 02:01 WIB

Foto: Korea Times

Foto: Korea Times

Seoul, REQNews.com -- Dua pemimpih Semenanjung Korea; Kim Jong-un (Korea Utara) dan Moon Jae-in (Korea Selatan) saling berkirim surat yang berisi harapan untuk dialog, di tengah penghentian perundingan nuklir dan percepatan pengembangan senjata Pyongyang.

KCNA, kantor berita Korut, mengatakan Kim Jong-un, Rabu 20 April, menerima surat pribadi Presiden Korsel Moon Jae-in, dan membalas keesokan hari dengan pernyataan sangat menghargai upaya perdamaian Moon Jae-in selama masa jabatannya.

Menurut KCNA, pertukaran surat di antara kedua pemimpin menunjukan kepercayaan mendalam.

Mengutip sejumlah pakar, Korea Times menulis pengumuman surat-surat Korut, yang muncul saat Kim Jong-un kemungkinan menguji coba nuklir dan melakukan provokasi, bertujuan mencegah opini publik Korsel. Moon Jae-in, menurut pakar, sedang berusaha mencegah pemimpin baru Korsel mengambil garis keras terhadap Pyongyang.

KCNA memberitakan Moon mengatakan kepada Kim bahwa dirinya akan terus berkampanye untuk reunifikasi Semenanjung Korea meski tidak lagi menjadi presiden pada bulan depan. Ia mendasarkan upaya ini pada deklarasi bersama untuk perdamaian yang dikeluarkan apda petemuan keduanya tahun 2018.

Kim dan Moon juga berbagi pandangan bahwa ubungan dua Korea akan meningkat dan berkembang seperti yang diinginkan, serta diantisipasi oleh Korut dan Korsel, yaitu melakukan upaya tanpa lelah dengan harapan.

Kantor kepresidenan Korsel mengkonfirmasi pertukaran surat tak lama setelah KCNA melaporkan, namun perlu berjam-jam untuk merilis versi yang dikakan Moon. Ini memperlihatkan Korut tidak berkoordinasi dengan Korsel sebelum mengumumkan pertukaran surat pribadi kedua pemimpin

Laporan KCNA dipublikasikan Rodong Sinmun, surat kabar resmi Korut, dan dibaca audiens domestik. Ini menunjukan pesan itu ditujukan untuk Korsel.

Menuut Seoul, Moon dalam suratnya kemada Kim Jong-un mengakui kemunduran dalam hubungan dua Korea tapi bersikeras sumpah aspirasional tahun 2018 tetap relevan.

Pada petemuan 2018 itu, kedua pemimpin bersumpah bekerja untuk perdamaian dan mencapai perjanjian militer untuk mereadkan bentrokan di perbatasan. Kesepatan ini menjadi landasan kerja sama di masa depan,

Juru bicara kepresidenan Korsel Park Kyung-mee mengatakan Moon juga menyatakan harapan dimulainya kembali pembicaraan nuklir antara Washington dan Pyongyang, dan Kim melanjutkan kerja sama dengan Korsel yang kelak dipimpin Presiden Yoon Suk-yeol.

Cheong Seong-chang, analis di Institut Sejong, mengatakan Korut mempublikasikan surat pribadi Moon Jae-in untuk menciptakan perpecahan di Korsel jelang pergantian pemerintahan.

"Mempertimbangkan indikasi bahwa Korut sedang mempersiapkan uji coba nuklir ketujuh, patut dipertanyakan apakah pantas bagi Presiden Moon mengirim surat kepada Kim Jong-un dan menyampaikan salam hangat," kata Cheong.

Yoon, presiden Korsel terpilih, dalam satu kampanye secara kasar mengatakan kebijakan luar negeri Moon Jae-in terhadap Korea adalah tunduk kepada Pyongyang dan berjanji memperkuat pertahanan Korsel, termasuk meningkatkan kemampuan first strike dan sistem antirudal canggih untuk mencegah serangan Korea Utara.

Ketegangan di Semenanjung Korea meningat setelah Pyongyang secara berturutan menguji kemampuan rudal-nya sejak 2017. Tujuan Korut adalah memaksa AS mengakui kekuatan nuklir Pyongyang dan menghapus semua sanksi yang melumpuhkan.

Korsel juga semakin agresif mempersenjata diri, dengan meningkatkan kemampuan serangan pendahuluan yang melumpuhkan kekuatan nuklir Korut. Seoul juga terus mencoba tidak tergatung pada AS dalam hal semua senjata.