IFBC Banner

Ini Tiga Dedengkot KKB di Papua Paling Berbahaya Menurut Komjen Boy Rafli

Senin, 09 Mei 2022 – 15:01 WIB

Komjen Pol Boy Rafli Amar (Foto:Istagram)

Komjen Pol Boy Rafli Amar (Foto:Istagram)

JAKARTA, REQNews – Empat dedengkot kelompok kriminal bersenjata (KKB) paling berbahaya adalah Egianus Kogoya, Lekagak Telenggen, Militer Murib, dan yang paling senior Goliat Tabuni. Hal itu diungkap Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol Boy Rafli Amar.

IFBC Banner


Masing-masing memiliki sejumlah pengikut dan basis atau area operasi di beberapa wilayah di Papua. Tiga di antara mereka berusia muda, hasil regenerasi dari generasi tua ke generasi yang lebih muda.

Mereka merupakan generasi ketiga atau anak-anak dari pemimpin kelompok separatis Organisasi Papua Merdeka (OPM).

Dalam wawancara eksklusif dengan The Interview, di Jakarta, Kamis, 28 April 2022, yang dikutip dari Viva, Kepala BNPT Komjen Pol Boy Rafli Amar, menyebut Egianus Kogoya, berbasis di Kabupaten Nduga. Sedangkan Lekagak Telenggen di kawasan Kabupaten Puncak, sementara Goliat Tabuni di Kabupaten Puncak Jaya.

"Militer Murib, Lekagak Telenggen, termasuk tokoh-tokoh utama yang melakukan berbagai penyerangan terhadap warga sipil yang berada di wilayah pegunungan tengah."

Goliat Tabuni, katanya, tidak lagi muda, melainkan paling tua di antara mereka, yakni berusia lebih dari tujuh puluh tahun.

Keempat militan KKB itu, kata Boy, memiliki basis wilayah dan simpatisan yang terpisah-pisah, seolah-olah telah membagi wilayah kekuasaan masing-masing. Meski begitu, ujarnya, pola komunikasi dan hubungan mereka masih sangat tradisional.

"Mereka saling tahu, tetapi mereka bergerak di wilayah. Mereka terkoneksi dengan sarana yang terbatas," kata mantan kepala Divisi Hubungan Masyarakat Mabes Polri itu.

Tak sampai seribu Dia menyebut bahwa KKB di Papua pada dasarnya tidak banyak. Berdasarkan taksirannya, sesuai hasil investigasi, "termasuk yang terlibat dalam penggunaan senjata, tidak sampai seribu [orang]".

Boy menganalisis, KKB sekarang sedang mengalami fase regenerasi dan sekarang didominasi kalangan muda.

Karena mereka masih muda, ditambah dorongan ideologi anti-NKRI yang kuat, "mereka memiliki tingkat militansi yang tinggi; mereka sangat menguasai alam lingkungan setempat, mereka sangat survive (sintas) dengan kondisi alam di ketinggian, dengan cuaca dingin, dengan pegunungan yang tentunya berbeda dengan dataran rendah".