Ziarah Ke Pondok Rangon, SDR Ingatkan Hutang Sejarah Gerakan Reformasi 98

Jumat, 13 Mei 2022 – 15:32 WIB

Direktur Eksekutif Studi Demokrasi Rakyat (SDR) Hari Purwanto mengunjungi pemakaman umum Pondok Ranggon

Direktur Eksekutif Studi Demokrasi Rakyat (SDR) Hari Purwanto mengunjungi pemakaman umum Pondok Ranggon

JAKARTA, REQnews - Direktur Eksekutif Studi Demokrasi Rakyat (SDR) Hari Purwanto mengunjungi pemakaman umum Pondok Ranggon di blok khusus yang terdiri dari 113 nisan korban kerusuhan 13-15 Mei 1998 di Jakarta.

Hari mengatakan bahwa kerusuhan Mei 1998 merupakan rangkaian yang tidak bisa dilepaskan dari sejarah reformasi di Indonesia. Kejadian ini, kata dia, melekat dengan Tragedi Trisakti 12 Mei 1998 yang menyebabkan 4 mahasiswa Universitas Trisakti gugur.

Untuk mengenang 24 tahun Reformasi, aktivis 98 itu pun berziarah dan berkontemplasi di kompleks pemakaman korban kerusuhan Mei 1998 untuik memulihkan ingatan tentang kejamnya Tragedi tersebut.

"Saya berdoa agar tragedi kemanusiaan ini tidak terulang lagi di republik cinta kita. Cukup lah tragedi menjadi pembelajaran tentang kejinya sebuah perpecahan anak bangsa," kata Hari dalam keterangannya pada Jumat 13 Mei 2022.

Selain itu, menurutnya juga perlunya menjaga persatuan dan kesatuan serta memegang teguh konstitusi dan ideologi Pancasila sebagai perekat bangsa. Hari juga mengingatkan hutang sejarah generasi pasca reformasi terhadap rangkaian tragedi sepanjang 1997-1999 yang bertalian yang hingga kini belum menemukan titik terang penyelesaian hukumnya.

Kasus-kasus tersebut seperti Penculikan Aktifis tahun 1997-1998, Tragedi Trisakti, Tragedi Kerusuhan Mei 1998, Tragedi Semanggi I (1998) dan Tragedi Semanggi II (1999).

"Kasus-kasus tersebut masih mandeg sebatas rekomendasi Komnas HAM. Sampai sekarang belum jelah arah penuntasannya. Dengan tidak mengabaikan kasus pelanggaran berat lainnya, saya berharap agar kasus-kasus pelanggaran HAM berat di era perjuangan reformasi dapat segera dituntaskan. Keluarga korban butuh kepastian hukum," kata dia.

Lebih lanjut, dirinya pun mengingatkan kepada aktivis 98 yang kini sudah memiliki posisi strategis di Komnas HAM, parlemen, eksekutif dan BUMN untuk terus menyuarakan penuntasan kasus-kasus tersebut.

"Kawan-kawan jangan pernah lupakan, kalian bisa dalam posisi nyaman saat ini tidak lepas dari pengorbanan belasan mahasiswa dan ribuan rakyat yang gugur selama periode perjuangan reformasi 1997-1999. Jangan karena empuknya sofa, dinginnya AC dan wanginya parfum, membuat kalian lupa ada hutang sejarah yang harus kalian bayar" ujarnya.