IFBC Banner

Bank Dunia Didesak Hentikan Pendanaan Proyek Panas Geothermal di Bumi Wae Sano

Selasa, 17 Mei 2022 – 20:15 WIB

Masyarakat Wae Sano minta Bank Dunia hentikan pendanaa proyek geothermal di Manggarai Barat, NTT.

Masyarakat Wae Sano minta Bank Dunia hentikan pendanaa proyek geothermal di Manggarai Barat, NTT.

NUSA TENGGARA TIMUR, REQnews - Masyarakat Wae Sano mendesak Bank Dunia untuk menghentikan pendanaan terhadap proyek geothermal di Manggarai Barat, NTT.

Sebelumnya, Bank Dunia melakukan pertemuan bersama dengan masyarakat Desa Wae Sano yang terdiri dari tiga kampung adat yaitu Dasak, Nunang dan Lempe pada Senin 9 Mei 2022. Pertemuan tersebut sebagai respon terkait dengan surat penolakan masyarakat adat setempat terhadap proyek geothermal yang didanai Bank Dunia.

Perwakilan masyarakat adat, Yosef Erwin Rahmat menilai bahwa kunjungan tersebut adalah bentuk perhatian serius dari Bank Dunia sebagai pemberi dana untuk proyek Geothermal terhadap persoalan yang sedang pihaknya alami.

"Pada kesempatan ini kami hendak sekali lagi dan dengan tegas menyatakan bahwa kami menolak pengeboran panas bumi di wilayah ruang hidup kami di Wae Sano dan mendesak Bank Dunia untuk membatalkan dukungan dana terhadap proyek ini," kata Yosef dalam keterangan tertulisnya, Selasa 17 Mei 2022.

Menurutnya, penolakan tersebut dilakukan karena proyek geothermal ini telah mengancam keutuhan ruang hidup masyarakat setempat. Terlebih, titik-titik pengeboran yang sudah ditetapkan berada di tengah-tengah ruang hidup masyarakat adat setempat.

"Yang kami maksudkan dengan ruang hidup adalah kesatuan yang utuh dan tak terpisahkan antara pemukiman (golo lonto, mbaru kaeng, natas labar), kebun pencaharian (umat duat), sumber air (wae teku), pusat kehidupan adat (compang takung, mbaru gendang), kuburan leluhur (lepah boak) dan hutan (puar) dan danau (sano). Sebab itu, kami menolak semua titik pengeboran (well pad) yang sudah ditetapkan baik Kampung Lempe, Nunang maupun Dasak," lanjutnya.

Pihaknya pun mengetahui, jika Bank Dunia terikat oleh prinsip 'Persetujuan Tanpa Paksaan berdasarkan Informasi yang Lengkap Sebelumnya' (Free, Prior and Informed Consect, FPIC). Sehingga Yosef menegaskan bahwa sudah sejak awal pihaknya tidak pernah sekalipun memberi persetujuan atas proyek geothermal Wae Sano.

"Kami sudah menyampaikan hal itu dalam surat yang telah kami kirim kepada Bank Dunia pada Februari 2020 dan Juli 2021. Meskipun pemerintah dan perusahaan berkali-kali memaksa, membujuk dan merayu kami, bahkan memanipulasi suara penolakan kami, semua itu tidak pernah mengubah sikap penolakan kami terhadap proyek geothermal Wae Sano hingga detik ini," kata dia.

Sehingga, Yosef mengatakan dihadapan delegasi Bank Dunia pihaknya juga menyampaikan situasi cemas dan ketakutan yang dialami masyarakat adat karena proyek tersebut terus dipaksakan dengan berbagai cara. "Kami yakin bahwa Bank Dunia tidak ingin terlibat dalam proses pembangunan yang penuh dengan intimidasi dan potensi kekerasan," tambahnya.

Lebih lanjut, ia pun menegaskan bahwa jika terdapat pihak-pihak seperti lembaga agama dan kelompok konsultan yang memberikan rekomendasi melanjutkan proyek pengeboran Geothermal ini, hal itu adalah bentuk manipulasi dan pemaksaan kehendak. Yosef menyabut mereka tidak mendapat persetujuan dari masyarakat setempat, sebagai warga yang terkena dampak langsung dari proyek geothermal itu.

Termasuk, jika beredar isu bahwa penolakan yang warga lakukan karena adanya penghasutan oleh pihak lain, menurutnya adalah salah. "Alasan penolakan kami sangat jelas yaitu ingin mempertahankan ruang hidup kami. Karena itu, semoga dengan tatap muka ini, Bank Dunia makin memahami alasan mendasar sikap penolakan kami," katanya.

Yosef pun mengatakan bahwa warga Wae Sano yang terdiri dari penduduk di kampung adat Dasak, Nunang dan Lempe menyatakan dengan tegas menolak pengeboran geothermal di dalam ruang hidup kami dan meminta Bank Dunia menghentikan dukungan dana untuk proyek ini.