IFBC Banner

IPW Desak Polri Pecat Dua Anggota Satreskrim Polres Sleman yang Diduga Aniaya Bryan Yoga Kusuma

Rabu, 08 Juni 2022 – 12:04 WIB

Polisi (Foto: Ilustrasi)

Polisi (Foto: Ilustrasi)

JAKARTA, REQnews - Indonesia Police Watch (IPW) mendesak agar anggota polisi yang diduga terlibat dalam penganiayaan Bryan Yoga Kusuma di parkiran Holywings Yogyakarta dan di Polres Sleman dipecat, karena telah menciderai marwah Institusi Polri.

IFBC Banner


"Apalagi, Kapolda DIY Irjen Asep Suhendar telah berjanji akan memproses pidana kedua anggota Polri tersebut. Artinya, ada pelanggaran disiplin dan kode etik yang dilakukan mereka," kata Ketua IPW Sugeng Teguh Santoso dalam keterangan tertulisnya, Rabu 8 Juni 2022.

Menurutnya, kepastian itu setelah dilakukan gelar perkara oleh Subdit Paminal, Direktorat Propam Polda DIY usai memeriksa empat orang sipil dan 13 anggota polisi. Hasilnya, kata dia, ada pelanggaran yang dilakukan oleh anggota Polri berinisial LV dan AR.

"Oleh sebab itu, Indonesia Police Watch (IPW) mendesak Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo untuk memberhentikan dua anggota Satreskrim Polres Sleman yang melakukan penganiayaan kepada Bryan Yoga Kusuma," kata dia.

Sugeng menyebut bahwa hal tersebut sesuai dengan amanah dalam Pasal 15 Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2003 tentang Pemberhentian Anggota Polri yang menyebutkan memberhentikan anggota Polri dilakukan oleh:

a. Presiden untuk pangkat Komisaris Besar Polisi (Kombes Pol) atau yang lebih tinggi,

b. Kapolri untuk pangkat Ajun Komisaris Besar (AKBP) atau yang lebih rendah.

Sebab, lanjutnya, perbuatan penganiayaan yang dilakukan oleh anggota Polri berinisial LV dan AR terhadap Bryan, jelas-jelas melanggar peraturan perundangan. "Pada Pasal 13 ayat 1 PP 1 Tahun 2003 secara tegas disebutkan, anggota Polri dapat diberhentikan tidak dengan hormat dari dinas Polri karena melanggar sumpah/janji anggota Polri, sumpah/janji jabatan, dan/atau Kode Etik Profesi Polri," tambahnya.

Ia mengatakan bahwa Institusi Polri merupakan alat negara yang tugas pokoknya melindungi dan mengayomi masyarakat. Sehingga Sugeng mengatakan, jangan sampai tugas luhur tersebut dikotori oleh ulah anggota polisi yang arogan dan merusak martabat Polri.

"Pastinya, hal ini dengan tegas diatur dalam Pasal 5 huruf a Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2003 tentang Disiplin Anggota Polri yang menyebutkan bahwa dalam rangka memelihara kehidupan bernegara dan bermasyarakat, anggota Polri dilarang melakukan hal-hal yang dapat menurunkan kehormatan dan martabat negara, pemerintah atau Polri," lanjutnya.

Diketahui, peristiwa penganiayaannya tersebut berawal pada Jumat 3 Juni 2022. Saat itu, Bryan Yoga Kusuma bersama beberapa kawannya, Albert Wijaya, Aprio Rabadi, Yogi Adhika Pratistha dan Irawan mengunjungi Holywings Yogyakarta sekitar pukul 23.30 WIB.

Lalu pada Sabtu 4 Juni 2022 sekitar pukul 02.00 WIB, Bryan Yoga Kusuma diprovokasi oleh seorang yang bernama Carmel dan berujung pada perkelahian di depan parkiran Holywings.

Sugeng mengatakan bahwa saat itu, Carmel memanggil temannya yang bernama Leo yang kemudian mengumpulkan seluruh security, preman, tukang parkir, provost dan PM untuk memprovokasi Bryan. "Dalam kejadian itu, Bryan Yoga dihajar kurang lebih selama satu jam oleh sekitar 20 orang. Anehnya, ada oknum polisi yang terlibat," kata dia.

Setelah keadaan agak kondusif, lanjutnya, Bryan dan Albert diberikan opsi jalan tengah untuk menyelesaikan masalahnya di Polres Sleman. Tetapi saat di kantor polisi, Bryan dan Albert diduga masih mendapat siksaan dan pukulan. Sementara anggota polisi yang ada hanya diam dan tidak memberikan pertolongan.

Ia mengatakan, dengan terjadinya peristiwa tersebut, sudah sepatutnya Jenderal Listyo Sigit mengevaluasi Kapolres Sleman AKBP Achmad Imam Rifai dari jabatannya. 

Karena menurut Sugeng, Peraturan Kapolri yang baru diterbitkan yakni Perkap Nomor 2 Tahun 2022 tentang Pengawasan Melekat di Lingkungan Polri tidak dijalankan. "Akibatnya, penganiayaan oleh anggota Polri kepada masyarakat sipil terjadi tanpa kendali," ujarnya.