IFBC Banner

Kombes Candra Sebut Total Sita Aset Kasus Penipuan Binomo Senilai Rp 67 Miliar

Kamis, 09 Juni 2022 – 15:02 WIB

Aplikasi Binomo (Foto: Ilustrasi)

Aplikasi Binomo (Foto: Ilustrasi)

JAKARTA, REQnews - Bareskrim Polri hingga kini telah menyita barang bukti dalam kasus dugaan penipuan investasi binary option aplikasi Binomo senilai Rp 67 miliar.

IFBC Banner


Kasubdit II Dittipideksus Bareskrim Polri Kombes Candra Sukma Kumara menyebut bahwa barang bukti tersebut berupa empat bidang tanah dan bangunan, kendaraan mewah, belasan jam tangan mewah dan uang tunai.

"Penyitaan aset berupa barang dan aset dengan nilai sekitar Rp 67.141.043.715," kata Candra saat dikonfirmasi wartawan di Jakarta, pada Kamis 9 Juni 2022.

Ia menyebut bahwa empat bidang tanah dan bangunan senilai sekitar Rp 32,8 miliar, dua kendaraan mewah senilai Rp 3,8 miliar, 12 jam tangan mewah senilai sekitar Rp 25 miliar dan uang dengan jumlah Rp 5 miliar.

Hingga kini penyidik telah melakukan pemeriksaan terhadap 131 orang saksi, 7 diantaranya adalah saksi ahli. "Kerugian para korban afiliator IK (Indra Kusuma alias Indra Kenz) sebanyak 144 orang sekitar Rp 83 miliar," katanya.

Penyidikan kasus tersebut hingga kini masih berlanjut, polisi masih melengkapi berkas perkara para tersangka untuk segera dilimpahkan ke jaksa penuntut umum (JPU).

Diketahui dalam kasus tersebut 7 orang juga telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus tersebut. Mereka adalah Indra Kenz (IK) berperan sebagai afiliator, Fakarich (F) sebagai mentornya, Brain Edgar Nababan (BEN) selaku Manager Development Platform Binomo dan perekrut afiliator di Indonesia.

Kemudian ada Wiky Mandara Halim (WMH) ia bertugas sebagai admin grup Telegram kelas trading milik Indra Kenz, Vanessa Khong (VK), adik Indra Kenz yaitu Nathania Kesuma (NK) dan ayah Vanessa Khong, Rudiyanto Pei (RP).

Para tersangka dijerat dengan Pasal 45 ayat (2) juncto Pasal 27 ayat (2), dan/atau Pasal 45A ayat (1) juncto Pasal 28 ayat (1) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas UU No. 11/2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Kemudian Pasal 3, Pasal 5, dan Pasal 10 UU No. 8/2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang dan/atau Pasal 378 KUHP jo. Pasal 55 KUHP.

Sementara Vanessa dan ayahnya serta adik Indra Kenz dijerat dengan Pasal 5 dan/atau Pasal 10 UU No. 8/2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) dan Pasal 55 ayat 1e KUHP dengan ancaman pidana 5 tahun serta denda maksimal Rp 1 miliar.