IFBC Banner

Facebook Gagal Lagi Deteksi Ujaran Kebencian dalam Iklan

Kamis, 09 Juni 2022 – 21:26 WIB

Foto: DW

Foto: DW

San Fransisco, REQNews.com -- Facebook, dan Meta -- perusahaan induknya -- gagal lagi mendeteksi ujaran kebencian yang jelas-jelas mengandung kekerasan dalam iklan yang dikirim ke plaftorm oleh kelompok nirlaba Global Witness dan Foxglove.

IFBC Banner


Pesan kebencian terfokus ke Ethiopia, negara yang sedang dilanda kekerasan komunal.

Sesuai dokumen internal Frances Haugen, moderasi Facebook yang tidak efektif benar-benar mengipasi kekerasan etnis. Haugen juga menyatakan hal ini dalam kesaksiannya di Kongres tahun 2021.

Maret lalu, Global Witness melakukan tes serupa dengan ujaran kebencian yang fokus ke Myanmar. Facebook juga gagal mendeteksi.

Dua kelompok itu membuat 12 iklan berbasis teks yang menggunakan ujaran kebencian yang tidak manusiawi, untuk menyerukan pembunuhan etnis Amhara, Oromo, dan Tigrayan.

Sistem Facebook menyetujui iklan itu dipubikasikan, seperti yang mereka lakukan dengan iklan Myanmar. Iklan itu sebenarnya telah dipublikasikan di Facebook.

Bedanya, kali ini Facebook memberi tahu Meta tentang pelanggaran yang tidak terdeteksi. Perusahaan itu mengatakan iklan itu seharusnya tidak disetujui.

Sepekan setelah mendengar dari Meta, Global Witness mengirim dua iklan lagi untuk disetujui, dan sekali lagi dengan ujaran kebencian terang-terangan. Kedua iklan berupa teks dalam Bahasa Amharik, bahasa yang paling banyak digunakan di Ethiopia, dan disetujui.

Meta tidak menanggapi permintaan komentar untuk pekan ini. "Kami memilih kasus terburuk yang bisa kami pikirkan," kata Rosie Sharpe, juru kampanye Global Witness. "Seharusnya itu paling mudah dideteksi Facebook, sebab itu bukan bahasa kode."

Secara konsisten Meta menolak mengatakan berapa banyak moderator konten yang dimilikinya di negara-negara tidak menggunakan Bahasa Inggris, termasuk Ethiopia, Myanmar, dan lainnya.

November 2021 Meta mengatakan telah menghapus posting PM Ethiopia yang mendesak warga bangkit dan mengubur pasukan Tigray, saingannya yang mengancam menyerang ibu kota.

"Ketika iklan yang menyeru genosida di Ethiopia berulang kali masuk melalui jaringan Facebook, hanya ada satu kesimpulan yaitu tidak ada orang di rumah," kata Rosa Curling, direktur Foxglove.

Ia melanjutkan; "Bertahun-tahun genosida berlangsung di Myanmar, dan Facebook belum mengambil pelajaran."