Google Akhiri Arbitrase Paksa Bagi Semua Perselisihan Karyawan

Sabtu, 23 Februari 2019 – 19:00 WIB

Google (FOTO: www.searchengineland.com)

Google (FOTO: www.searchengineland.com)

JAKARTA, REQNews - Google tidak akan lagi memaksa karyawannya menyelesaikan perselisihan dengan perusahaan dalam arbitrase yang privat. Pernyataan Google ini memperluas janji sebelumnya untuk menghapuskannya dalam praktik nyata perihal kasus pelecehan atau penyerangan seksual.

Google juga memberitahu stafnya dalam sebuah email pada Kamis (21/2/2019) bahwa kebijakan baru ini akan berlaku secara global pada 21 Maret. Gina Scigliano, juru bicara Google, membenarkan perubahan kebijakan ini, sebagaimana diberitakan The New York Times, Kamis (21/2/2019). 

Tahun lalu, sebuah artikel The New York Times mengungkapkan, Google tleah memberi paket keluar dari perusahaan senilai 90 juta Dollar kepada Andy Rubin, salah seorang eksekutif senior, setelah dirinya dituduh melakukan pelecehan seksual. 

Pemberitaan ini memicu pemogokan 20.000 karyawan Google yang menuntut perubahan cara perusahaan memperlakukan karyawannya. November 2018, Google setuju membatalkan arbitrase dalam kasus-kasus pelecehan atau penyerangan seksual. 

Penyelenggara di belakang aksi pemogokan tersebut menuntut, Google berhenti memaksa karyawannya melakukan arbitrase untuk jenis perselisihan lainnya. Google mengatakan telah memtuuskan untuk membuat perubahan besar setelah membandingkan kebijakannya dengan kebijakan perusahaan lain. Namun karyawan yang lebih suka melakukan arbitrase secara pribadi masih memiliki opsi tersebut. 

"Kemenangan ini tidak akan pernah terjadi jika pekerja tidak bersatu, mendukung satu sama lain dan berjalan keluar,” demikian postingan Google Walkout for Real Change, penyelenggaran aksi pemogokan karyawan Google tahun lalu, di Twitter. 

Selama bertahun-tahun, kontrak kerja Google telah memasukkan klausul yang mengharuskan staf mengeluarkan keluhan di balik pintu tertutup, alih-alih menuntut perusahaan dalam sistem pengadilan publik.

Arbitrase adalah praktik umum di antara perusahaan teknologi untuk menyelesaikan perselisihan di luar pengadilan. Praktik ini terutama menyangkut kasus kontroversial seperti pelecehan seksual karena cenderung membatasi korban berbicara tentang pengalaman mereka.

Namun akhirnya perusahaan menghilangkan arbitrase yang selama ini dilakukan dengan unsur paksaan karena tekanan dari karyawan yang semakin besar. 

Google mengatakna, perubahan kebijakan tidak akan berlaku untuk mantan karyawan dengan perselisihan yang belum terselesaikan. Pekerja Google saat ini tidak akan dipaksa ke arbitrase untuk perselisihan yang terbuka. 

Selain itu, pihak perusahaan juga akan menghapus praktik arbitrase itu bagi staf temporer, pekerja kontrak dan vendor yang disewanya. Hal ini tidak akan memaksa perusahaan pihak ketiga yang memasok staf bagi Google mematuhi kebijakan tersebut. (Prazz)