IFBC Banner

Para Pakar PBB Desak UEA Bebaskan Perempuan yang Sekarat

Jumat, 01 Maret 2019 – 07:00 WIB

Fionnuala Ni Aolain, Pelapor Khusus PBB tentang Promosi dan Perlindungan HAM dalam Pemberantasan Terorisme. (FOTO: Jean-Marc Ferre/ UN Photo)

Fionnuala Ni Aolain, Pelapor Khusus PBB tentang Promosi dan Perlindungan HAM dalam Pemberantasan Terorisme. (FOTO: Jean-Marc Ferre/ UN Photo)

JAKARTA, REQNews - Para pakar dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengingatkan Uni Emirat Arab bahwa penyiksaan dan perlakuan buruk secara universal dan mutlak dilarang. Selain itu, mereka juga mengatakan, setiap pernyataan yang dibuat sebagai akibat dari penyiksaan tidak boleh diajukan sebagai bukti. Demikian pernyataan itu ditujukan kepada Uni Emirat Arab yang telah menahan dan menyiksa Alia Abdunoor, seorang perempuan yang tengah menderita sakti kanker payudara, seperti dilanisr dari UN News, Selasa (26/2/2019).


IFBC Banner


Para pakar bekerja di bawah prosedur khusus Dewan Hak Asasi Manusia yang berpusat di Jenewa. Mereka terdiri dari tiga Pelapor Khusus dari PBB, yaitu Dainius Pura, Pelapor Khusus tentang hak setiap orang untuk menikmati standar kesehatan fisik dan mental tertinggi yang dapat dicapai; Nils Melzer, Pelapor Khusus tentang penyiksaan dan perlakuan atau hukuman yang kejam, tidak manusiawi atau merendahkan martabat; dan Fionnuala Ní Aolái, Pelapor Khusus untuk memajukan dan melindungi hak asasi manusia dan kebebasan mendasar sambil melawan terorisme.

Alia Abdulnoor telah ditahan selama enam bulan dalam sebuah ruang rumah sakit tanpa jendela, tanpa ventilasi. Ia dirantai ke tempat tidurnya dan berada di bawah penjagaan bersenjata. 

Perempuan yang ditangkap pada Juli 2015 ini didakwa atas tuduhan “pembiayaan terorisme" setelah dia membantu mengumpulkan dana untuk keluarga Suriah yang membutuhkan di UEA dan wanita serta anak-anak yang terkena dampak perang di Suriah.

"Kami sangat prihatin dengan kondisi fisik dan mental Ms. Abdulnoor, dan tentang laporan bahwa kondisi penahanan menyebabkan rasa sakit yang tidak perlu," kata tiga Pelapor Khusus PBB.

Selama enam bulan, Abdulnoor dalam penahanan rahasia dan penyendirian. Dia diancam dan menjadi sasaran penghinaan fisik dan psikologis yang parah. Di bawah siksaan, wanita yang sakit kritis itu dipaksa menandatangani pengakuan tertulis.

Kini, kanker yang menggerogoti tubuh Abdulnoor telah menyebar ke organ vital. November tahun lalu, kondisi kesehatannya yang semakin memburuk mendorong pihak berwenang memindahkannya ke Rumah Sakit Mafraq di Bani Yas, Abu Dhabi.

Selama masa penahanan, pihak berwenang menolak permintaan pihak keluarga untuk membebaskannya dengan alasan medis. Permintaan terakhir atas pembebasan itu diajukan pada 10 Januari 2019. Akibatnya, Abdulnoor dipindahkan ke Rumah Sakit Tawam di Al Ain. Selama itu, Abdulnoor menolak obat pengurang rasa sakit.

Atas dasar kondisi Abdulnoor itu, ketiga ahli PBB itu menyerukan agar pihak berwenang membebaskan Abdulnoor. Dengan demikian, Abdulnoor dapat menjalani hari-hari terakhir hidupnya dengan bermartabat bersama keluarganya di rumah.

Selain itu, mereka juga meminta UEA untuk menyelidiki dugaan tindakan penyiksaan dan perlakuan buruk kepada Abdulnoor. UEA juga dituntut mendakwa tersangka pelaku penyiksaan itu sesuai dengan kewajibannya di bawah hukum hak asasi manusia internasional. (Prazz)