Korban Rokok Elektrik Bertumbangan, 18 Orang Tewas 

Jumat, 04 Oktober 2019 – 15:00 WIB

Ilustrasi penggunaan vape (Foto:Istimewa)

Ilustrasi penggunaan vape (Foto:Istimewa)

NEW YORK, REQNews - Berdasarkan laporan terbaru dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), pengguna vape yang terserang penyakit terus meningkat hingga 1.080 kasus. Bahkan, 18 orang di antaranya tewas. 

Menurut Wakil Direktur Utama CDC, Dr Anne Schuchat, dikhawatirkan masih banyak produk-produk berisiko saat ini. Tercatat 275 kasus baru akibat vape ini sejak minggu lalu.

"Mengingat terus terjadi kasus baru yang mengancam jiwa, CDC merekomendasikan agar orang tidak menggunakan rokok elektrik atau produk vaping, terutama yang mengandung THC (bahan aktif dalam ganja)," katanya pada Kamis, 3 Oktober 2019, waktu setempat.

Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Amerika Serikat telah mengumpulkan lebih dari 440 sampel produk dan konstituen vaping di 18 negara bagian yang berbeda. Namun, hingga saat ini, mereka masih belum dapat menemukan benang merah dari produk-produk yang menyebabkan penyakit ini.

Dari 578 pasien yang datanya dimiliki CDC, 78% dilaporkan menggunakan produk yang mengandung THC. Laporan lainnya yang diterbitkan minggu lalu mengenai para pasian di Illinois dan Wisconsin juga menyebutkan hal yang sama. Diduga, THC ini telah terkandung dalam produk yang catridge-nya telah diisi sebelum konsumen membelinya.

Schuchat menambahkan, banyak pasien yang mendapatkan produk-produk itu secara ilegal di jalanan. Namun, laporan itu difokuskan pada wilayah geografis yang sangat spesifik sehingga tidak dapat disimpulkan bahwa penyakit ini hanya disebabkan oleh produk yang dibeli secara ilegal.

Sebelumnya, para peneliti juga telah menemukan vitamin E asetat di banyak produk, terutama yang diperoleh dari pasien di New York. Penelitian ini menunjukkan bahwa minyak bisa menumpuk di paru-paru manusia dan menyebabkan penyakit.

Namun, sebuah laporan baru yang diterbitkan pada Rabu di The New England Journal of Medicine tidak menemukan bukti yang menjadi masalah setelah para peneliti memeriksa biopsi paru-paru dari 17 pasien di seluruh AS. Sebaliknya, mereka menyimpulkan bahwa penyakit itu kemungkinan besar hasil menghirup uap kimia beracun.

Semua itu dikatakan, masih belum jelas apa yang menyebabkan ratusan orang datang ke rumah sakit dengan sesak napas, batuk, sakit dada dan kadang-kadang bahkan mual, muntah, demam, dan penurunan berat badan setelah vaping.