Ngeri! YLBHI Catat 44 Orang Tewas Misterius Sepanjang Demo Januari-Oktober

Senin, 28 Oktober 2019 – 06:00 WIB

Ilustrasi demo mahasiswa (Foto: Ilustrasi)

Ilustrasi demo mahasiswa (Foto: Ilustrasi)

JAKARTA, REQnews - Sepanjang Januari hingga Oktober 2019 ini, 44 orang meninggal secara misterius atau tidak diketahui penyebabnya. Data tersebut berdasarkan catatan Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) beserta 16 LBH se-Indonesia.

Mereka juga mencatat telah terjadi 78 kasus pelanggaran dalam menyatakan kebebasan berpendapat di muka umum. Dari 78 kasus itu, terdapat 51 orang menjadi korban meninggal pada saat menggelar aksi unjuk rasa.

Sementara 6 orang meninggal karena luka tembak dan 1 orang meninggal akibat kehabisan nafas karena gas air mata.  "Dari keseluruhan, hanya 7 orang saja yang jelas Informasi meninggalnya, sedangkan 44 korban lain tidak ada informasi resmi. Ini dalam konteks hak asasi manusia, sebenarnya ini berbahaya, mengerikan," kata Ketua Bidang Advokasi YLBHI, Muhammad Isnur di Jakarta, Minggu 27 Oktober 2019.

Jumlah korban meninggal itu berasal dari aksi Anti Rasisme di Wamena dan Jayapura, aksi #Reformasidikorupsi dan aksi 22-24 Mei di Jakarta. Untuk aksi di Anti Rasisme di Wamena, terdapat 33 orang meninggal. Sementara di Jayapura, 4 orang meninggal pada saat aksi yang sama.

Menurut dia, dalam aksi Anti Rasisme di Wamena, tidak ada penjelasan dari kepolisian atau pemerintah apakah luka tembak, luka tajam dan lain-lain. Pun di Jayapura 4 orang meninggal tidak ada penjelasan resmi, tapi keluarga menemukan ada luka tembak.

Lalu, orang yang meninggal pada saat aksi #Reformasidikorupsi di Kendari 2 orang dan di Jakarta sebanyak 3 orang tanpa ada keterangan resmi penyebab meninggal dari instansi manapun.

"Sementara 2 orang meninggal di Kendari, disebabkan oleh luka tembak. Hal itu berdasarkan visum dari dokter. Tapi sampai sekarang belum ada penjelasan resmi dari kepolisian atau lembaga manapun, yang menyatakan luka tembak, hanya dari keterangan dokter. Yang di Jakarta juga tiga orang meninggal, keterangan kepolisian berubah-ubah, meninggal karena apa tidak jelas," kata Isnur. 

Kemudian aksi 22-24 Mei 2019 di Jakarta, di mana terdapat 9 orang meninggal. Menurut Isnur, dalam aksi 22-24 Mei di Jakarta, korban meninggal karena luka tembak 4 orang dan 1 orang kehabisan nafas. Sementara 4 orang lainnya tidak diketahui penyebab meninggalnya.